INFOLABUANBAJO.ID – Terik menggantung rapat di langit Kampung Kokor, Ahad, 17 Agustus 2025. Di tengah lapangan berdebu, seorang bocah perempuan dengan pakaian adat lengkap berdiri tegak. Namanya Imakulata Sesil Mawarni Pola. Usianya baru sembilan tahun, tapi suaranya yang lantang seolah membelah panas yang membekap Desa Tanjung Boleng, Manggarai Barat, itu.
Ratusan pasang mata menatapnya lekat. Di belakangnya, kawan-kawannya dari SDI Satap Kokor menggenggam bilah-bilah bambu dengan erat. “Tari Rangkuk Alu adalah tarian tradisional dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur,” ujarnya, napasnya sedikit tertahan oleh gugup sekaligus bangga. “Dahulu, permainan ini sering dimainkan setelah panen… menjadi ajang pertemuan remaja.”
Hening sesaat, lalu tepuk tangan membahana. Tak lama, ritme khas getak-getuk-getak dari bambu yang saling diadu mulai mengalun. Musik perkusi dadakan itu menjadi pemanggil bagi para penari untuk melompat lincah di antara celah-celah maut yang menganga dan mengatup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah panggung perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 di halaman SMP Satap Kokor. Jauh dari hingar bingar dan gemerlap panggung ibu kota yang mungkin merayakan delapan dasawarsa republik dengan pertunjukan drone dan teknologi mutakhir. Di sini, kemeriahan adalah tetes peluh yang membasahi dahi, derai tawa yang lepas, dan semangat yang menyala di bawah matahari Flores yang tak kenal kompromi.
Senyapnya sinyal internet—sebuah keluhan klasik yang jadi lagu wajib di pelosok negeri—rupanya tak kuasa membungkam riuh gembira anak-anak Tanjung Boleng. Mereka datang berbondong dari sekolah-sekolah sekitar: SDI Kokor, SDK Gerak, SDN Nanga Boleng, SDI Rangko, SMPN 3 Boleng dan SMP Satap Kokor. Lapangan sederhana itu menjadi saksi bisu sebuah manifestasi kemerdekaan yang paling hakiki: merdeka untuk berekspresi, merdeka dari candu gawai.
Lihatlah sekelompok siswi lain yang tampil setelah Rangkuk Alu. Mereka membawakan dance modern dengan percaya diri. Gerakannya mungkin dipelajari dari video yang diunduh dengan susah payah saat sinyal malu-malu menampakkan diri, atau hasil kreasi seorang guru yang menolak menyerah pada keterbatasan. Saat musik dari pengeras suara menghentak, tubuh-tubuh mungil itu bergerak lincah, menyerap irama global dan menerjemahkannya dengan sukacita lokal.
Penulis : Fons Abun
Editor : F.A
Sumber Berita: infolabuanbajo.id
Halaman : 1 2 Selanjutnya







