INFOLABUANBAJO.ID — Pada 1 April 1982, ribuan warga Borong tumpah ruah ke sepanjang jalan Ranaloba menyambut kedatangan Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Kunjungan itu berlangsung sehari setelah Soeharto membuka panen raya jagung di Kabupaten Sikka. Dari Sikka, rombongan terbang dengan dua helikopter menuju Manggarai.
Di Desa Ranaloba, Kecamatan Borong, Soeharto mengawali panen padi dengan menyabit rumpun padi di pematang sawah. Menteri Sekretaris Negara kala itu, Sudharmono SH, menyebut Presiden tampak sangat puas melihat hasil pertanian di wilayah tersebut.
“Saya gembira, mungkin lebih gembira dari saudara-saudara sekalian,” ujar Soeharto kepada para petani, disambut sorak warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Koperasi dan Program Intensifikasi
Warga kemudian menyampaikan berbagai permohonan: perbaikan jalan, sarana ibadah hingga irigasi. Soeharto merespons dengan menyarankan agar petani memperkuat keanggotaan dalam Koperasi Unit Desa (KUD). Melalui koperasi, kata Soeharto, pengadaan alat pertanian, obat hama dan sarana angkut bisa lebih terjangkau.
Pemerintah, lanjutnya, akan memberi bimbingan bertahap untuk meningkatkan produksi pertanian. Ia juga mendorong penerapan sistem tumpang sari, penanaman kedelai, serta mixed farming, yaitu kombinasi tanaman pangan dan usaha peternakan untuk membantu pemenuhan gizi keluarga.
Tumpang sari, menurut Soeharto, tidak hanya dianjurkan tetapi akan diprogramkan seperti halnya bimas padi dan palawija.
Angka Panen Meningkat
Sudharmono mencatat, produksi ubinan di lahan yang dipanen Soeharto mencapai 7–10,5 ton per hektare — jauh di atas produksi rata-rata petani setempat yang hanya 1–2 ton per hektare. Ranaloba sendiri memiliki areal intensifikasi seluas 1.400 hektare.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya






