INFOLABUANBAJO.ID — Lonjakan tagihan air Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Wae Mbelilling memicu kemarahan warga Labuan Bajo. Di tengah pasokan air yang kerap tersendat, publik kini mempertanyakan kompetensi dan transparansi Direktur Perumda Air Minum Wae Mbelilling, Ponsianus Mato, dalam mengelola layanan dasar masyarakat.
Keluhan warga mencuat setelah seorang pelanggan mempublikasikan bukti pembayaran rekening air senilai Rp 205.750 untuk pemakaian satu bulan, padahal air disebut hanya mengalir sekitar 15 hari. Unggahan itu viral dan membuka “kotak pandora” persoalan lama PDAM: air sering mati, tetapi tagihan justru melonjak.
Keluhan tersebut bukan kasus tunggal. Di kolom komentar, puluhan warga mengaku mengalami hal serupa. Tagihan yang sebelumnya berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu tiba-tiba melonjak menjadi Rp 200 ribu, bahkan Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu per bulan. Ironisnya, distribusi air di sejumlah wilayah hanya terjadi dua hingga tiga kali dalam sebulan dengan durasi singkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin angka pemakaian air melonjak drastis sementara aliran air justru minim?
Direktur Perumda Air Minum Wae Mbelilling, Ponsianus Mato, membantah seluruh tudingan. Ia menegaskan tidak ada kenaikan tarif air sejak 2018 dan seluruh pencatatan meter dilakukan secara digital melalui aplikasi bacameter yang disertai foto dan titik koordinat.
Namun, bantahan tersebut dinilai publik normatif dan menghindar dari substansi persoalan. Warga tidak mempersoalkan tarif di atas kertas, melainkan validitas angka pemakaian yang dicatat dan dibebankan kepada pelanggan.
Beberapa pelanggan mengaku mendengar meteran air berputar cepat meski debit air kecil, bahkan ketika air nyaris tidak mengalir. Ada pula yang mempertanyakan klaim pembacaan meter secara rutin, mengingat petugas dinilai jarang melakukan pengecekan langsung ke rumah pelanggan.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya






