Uskup Labuan Bajo: Natal 2025 Momentum Gereja Bersikap Profetis atas Krisis Ekologi dan Sosial

- Redaksi

Sabtu, 20 Desember 2025 - 20:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uskup Labuan Bajo: Natal 2025 Momentum Gereja Bersikap Profetis atas Krisis Ekologi dan Sosial

Uskup Labuan Bajo: Natal 2025 Momentum Gereja Bersikap Profetis atas Krisis Ekologi dan Sosial

INFOLABUANBAJO.ID — Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menegaskan bahwa perayaan Natal 2025 tidak boleh berhenti pada seremoni liturgis, melainkan harus menjadi momentum Gereja untuk bersikap profetis terhadap berbagai persoalan sosial dan ekologis yang dihadapi masyarakat, khususnya di Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya.

Pesan itu disampaikan Mgr. Maksimus dalam Surat Gembala Natal 2025 bertajuk “Kristus, Kesukaan Besar, Berjalan Bersama Kita” yang diterbitkan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Labuan Bajo, Sabtu, 20 Desember 2025.

“Natal bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan peristiwa ilahi yang selalu baru. Allah hadir, mendekat, dan berjalan bersama manusia di tengah kerapuhan,” tulis Mgr. Maksimus, mengutip Injil Lukas 2:10 tentang kabar kesukaan besar bagi seluruh bangsa.

Gereja sebagai Ruang Perjumpaan

Dalam surat gembala tersebut, Mgr. Maksimus merefleksikan perjalanan pastoral Keuskupan Labuan Bajo sepanjang 2025. Ia menyoroti pentingnya perjumpaan sebagai jantung kehidupan Gereja. Menurut dia, kunjungan pastoral ke paroki dan stasi memperlihatkan kerinduan umat akan Gereja yang menjadi rumah bersama—ruang aman untuk didengar dan diterima.

“Setiap perjumpaan sejati adalah Natal yang terus berulang,” tulisnya. Ia menyebut semangat ini sejalan dengan gagasan Paus Fransiskus tentang budaya perjumpaan dan Gereja yang berjalan bersama umat.

Sinodalitas dan Solidaritas Berbasis Budaya Lokal

Mgr. Maksimus juga menegaskan arah Keuskupan Labuan Bajo sebagai Gereja yang sinodal, solid, dan solider. Sinodalitas, menurut dia, bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup Gereja yang memberi ruang bagi suara kecil dan mereka yang terpinggirkan.

Baca Juga:  Kenapa Disebut Tri Hari Suci Tapi Dirayakan 4 Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya

Ia menilai nilai-nilai budaya Manggarai—seperti musyawarah kampung dan solidaritas komunal—menjadi fondasi penting bagi Gereja lokal untuk membangun kesatuan dan keberpihakan sosial, termasuk dalam merawat lingkungan hidup sebagai rumah bersama.

Tata Kelola dan Transparansi Gereja

Tahun 2025 dijalani Keuskupan Labuan Bajo sebagai Tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif. Mgr. Maksimus menyebut tata kelola yang baik sebagai kebutuhan mendasar bagi keuskupan yang masih muda.

Penulis : Tim Info Labuan Bajo

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Sosok Anggur Putra Sutar, S.H.: Putra Labuan Bajo dengan Visi Nasional dan Bukti Nyata
Yesus Wafat di Depan Alfamart, Jalan Salib Tematis Jadi Sorotan Publik
Kenapa Disebut Tri Hari Suci Tapi Dirayakan 4 Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya
Kenapa Dolar AS Selalu Dipakai di Seluruh Dunia? Ini 6 Alasan Utamanya
Ini Alasan Patung dan Salib di Gereja Ditutup Kain Ungu Saat Prapaskah, Ternyata Penuh Makna Mendalam
Perayaan Minggu Palma: Ribuan Umat Katolik Kenang Masuknya Yesus ke Yerusalem
Tak Hanya Komodo! Gereja Katolik di Labuan Bajo Ini Jadi Tempat Cari Ketenangan
5 Peluang Usaha Modal Kecil yang Menjanjikan untuk Anak Muda di Labuan Bajo

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 15:15 WITA

Sosok Anggur Putra Sutar, S.H.: Putra Labuan Bajo dengan Visi Nasional dan Bukti Nyata

Minggu, 5 April 2026 - 06:08 WITA

Yesus Wafat di Depan Alfamart, Jalan Salib Tematis Jadi Sorotan Publik

Sabtu, 4 April 2026 - 11:52 WITA

Kenapa Disebut Tri Hari Suci Tapi Dirayakan 4 Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya

Sabtu, 4 April 2026 - 03:53 WITA

Kenapa Dolar AS Selalu Dipakai di Seluruh Dunia? Ini 6 Alasan Utamanya

Jumat, 3 April 2026 - 10:00 WITA

Ini Alasan Patung dan Salib di Gereja Ditutup Kain Ungu Saat Prapaskah, Ternyata Penuh Makna Mendalam

Berita Terbaru