INFOLABUANBAJO.ID — Pagi itu, Vinsensius Jemadu terbangun dengan perasaan yang tidak biasa. Bukan karena suara ayam atau riuh kampung, melainkan oleh satu gambaran yang masih melekat kuat di kepalanya: seekor babi hutan mati, tergeletak di kali, tubuhnya membusuk dan berbau menyengat. Ia tidak berteriak. Tidak pula langsung menafsirkan apa-apa. Ia hanya duduk sejenak, diam, membiarkan mimpi itu menetap.
Bagi sebagian orang, mimpi hanyalah bunga tidur. Tapi bagi Vinsensius, warga Desa To’e di Kecamatan Reok Barat, mimpi adalah sesuatu yang patut didengarkan. Terlebih dalam situasi kampung yang sedang berduka. Seorang anak bernama Armendo W. Jeferson, 14 tahun, telah hilang selama lebih dari sepekan, terseret arus deras Air Terjun Tiwu Pai.
“Dalam mimpi itu, saya lihat jelas di kali ada babi hutan mati, sudah bau,” kata Vinsensius pelan, mengulang ceritanya. “Saya usai cari pakan sapi, saya langsung minta ke istri untuk siapin makanan.” kata Vinsensius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia tidak segera pergi ke sungai. Ia juga tidak mengabarkan mimpi itu ke siapa pun. Tapi ada dorongan yang terus mengganggu pikirannya. Sebuah keyakinan yang sulit dijelaskan dengan logika. Ia lalu memutuskan berjalan menyusuri sungai. Bukan sendiri. Ia mengajak tiga anaknya ikut serta.
Siang itu, Senin 19 Januari 2026, mereka menyusuri aliran sungai Tiwu Pai ke arah hilir. Sungai itu tidak ramah. Berbatu, berliku, dan dipenuhi cabang kayu serta semak yang terbawa arus. Beberapa bagian licin. Airnya keruh. Bagi tim pencari profesional sekalipun, medan seperti itu bukan perkara mudah.
Pencarian Armendo sejatinya telah dilakukan sejak hari pertama ia dilaporkan tenggelam, Minggu 11 Januari 2026. Tim SAR gabungan—Basarnas, TNI-Polri, BPBD, aparat desa, dan warga—telah menyisir air terjun, kolam alami, hingga aliran sungai. Namun hari demi hari berlalu tanpa hasil. Harapan keluarga mulai menipis. Kampung diliputi rasa pasrah.
Vinsensius berjalan tanpa alat khusus. Tidak ada perlengkapan SAR. Tidak ada perintah siapa pun. Ia hanya mengikuti perasaan dan arah sungai. Di satu titik, sekitar satu kilometer dari lokasi air terjun, salah satu anaknya berhenti. “Anak saya yang lihat pertama,” ujarnya singkat.
Di antara cabang kayu dan batu-batu besar, tubuh Armendo tergeletak. Diam. Tak bergerak. Air sungai yang selama berhari-hari menjadi saksi akhirnya melepas jasad itu ke tepian. Mimpi Vinsensius menjadi nyata—bukan dalam rupa babi hutan, melainkan seorang anak manusia yang telah lama dicari.
Penemuan itu segera dilaporkan. Aparat datang. Tim SAR mengevakuasi jasad korban dari Dusun Lengo Alo, Kampung Kalo, Desa To’e. Polisi memastikan identitas korban. Operasi pencarian resmi dinyatakan selesai.
Kapolsek Reo, Ipda Joko Sugiarto, membenarkan bahwa korban ditemukan jauh dari titik tenggelam. “Sekitar satu kilometer dari lokasi awal,” katanya. Arus sungai yang kuat diduga menyeret tubuh korban selama beberapa hari.
Namun bagi warga kampung, jarak itu bukan sekadar ukuran geografis. Ia adalah jarak antara harapan dan kepastian. Dan Vinsensius, dengan mimpinya, menjadi jembatan di antaranya.
Vinsensius bukan tokoh adat. Bukan pula aparat. Ia petani kampung biasa. Tidak terbiasa berbicara di depan kamera atau menjelaskan pengalamannya dengan bahasa besar. Ia tidak mengklaim memiliki kemampuan apa pun. Ia hanya mengatakan, mimpi itu “terasa benar”.
Dalam budaya kampung-kampung di Manggarai, mimpi sering dianggap sebagai isyarat. Bukan ramalan, melainkan panggilan batin. Sesuatu yang datang ketika nalar buntu. Ketika upaya rasional telah ditempuh, dan manusia hanya bisa berharap pada tanda-tanda kecil.
Mimpi Vinsensius tidak menghentikan kerja SAR. Tidak pula menggantikan prosedur pencarian. Tapi ia hadir di sela kelelahan kolektif, sebagai pengingat bahwa pencarian tidak selalu selesai oleh teknologi atau peralatan, melainkan oleh kepekaan manusia yang masih mau berjalan, melihat, dan percaya.
Kini, setelah jasad Armendo ditemukan, Vinsensius kembali ke rutinitasnya. Ia tidak meminta penghargaan. Tidak pula merasa menjadi pahlawan. Ia hanya ikut berduka, seperti warga lainnya.
“Saat ditemukan, korban terlihat berada di himpitan batu dan kolam sungai. Tangan korban berada di atas tangkai kayu,” ucap Vinsen.
Di sungai Tiwu Pai, mimpi itu telah berakhir. Tapi kisahnya akan tinggal lama—tentang seorang warga biasa, tentang mimpi yang dianggap sepele, dan tentang bagaimana duka akhirnya menemukan penutupnya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi







