INFOLABUANBAJO.ID – Tuduhan penganiayaan terhadap dua perempuan di Labuan Bajo yang sebelumnya diberitakan media Info Labuan Bajo pada 20 Januari 2026 kini mendapat klarifikasi resmi dari pihak terlapor. Lastri, perempuan yang disebut dalam laporan tersebut, menyampaikan versi kronologi kejadian yang menurutnya selama ini tidak diungkap secara utuh dan berimbang ke publik.
Klarifikasi ini disampaikan sebagai respons atas pemberitaan berjudul “Dituduh Sebarkan Isu Selingkuh, Dua Perempuan di Labuan Bajo Dianiaya; Keluarga Desak Polisi Tetapkan Tersangka”. Dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Lastri menegaskan bahwa kedatangannya ke sejumlah pihak bukan untuk melakukan kekerasan, melainkan untuk meminta penjelasan atas isu fitnah yang dinilai telah mencoreng kehormatan keluarganya.
Menurut Lastri, persoalan bermula pada awal November 2025 saat ia bersama keluarga pergi ke Kampung Terang untuk memperbaiki makam nenek mereka. Selama tiga hari berada di luar kota, rumah Lastri di Labuan Bajo dititipkan kepada dua saudaranya dan seorang ipar, Wempy dan Sinta. Sepulang dari Terang, kondisi rumah dinyatakan normal dan tidak ada persoalan berarti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun dua minggu kemudian, Sinta kembali menemui Lastri dengan kebingungan setelah mendengar desas-desus yang menyebut kepergian Lastri ke Terang bukan untuk urusan makam, melainkan untuk mencari dukun karena masalah rumah tangga. Isu tersebut bahkan menuduh adanya praktik guna-guna dan dugaan perselingkuhan yang melibatkan anggota keluarga Lastri.
“Isu itu sangat keji dan menyakitkan. Hubungan saya dengan keluarga, termasuk adik ipar, selama ini baik-baik saja,” tegas Lastri dalam klarifikasinya.
Untuk meluruskan kabar tersebut, Lastri mendatangi rumah ibu mertua Wati di Kampung Pancang Lancang. Wati sempat membantah telah menyebarkan gosip itu. Namun karena merasa ada kejanggalan, Lastri bersama keluarga Wati kemudian mendatangi kos Atik untuk melakukan klarifikasi langsung.
Di lokasi tersebut, situasi disebut mulai memanas. Setelah saling berdebat, Apolonia akhirnya mengakui bahwa informasi tersebut berasal dari Wati dan diteruskan oleh Atik. Pengakuan ini, menurut Lastri, menjadi titik balik konflik.
Ketegangan memuncak ketika Wati kembali membantah, bahkan melontarkan tuduhan baru yang lebih liar dan menyerang kehormatan keluarga Lastri. Dalam situasi emosional tersebut, terjadi kontak fisik antara Lastri dan Wati.
Lastri mengakui adanya pukulan, namun menegaskan hal itu terjadi secara refleks setelah dirinya lebih dulu diserang. Ia juga menyebut Atik sempat berusaha menyerangnya sebelum akhirnya situasi dilerai.
Situasi semakin tidak kondusif ketika keluarga besar Wati datang dengan jumlah sekitar delapan orang. Dalam klarifikasinya, Lastri mengaku mendapat makian dan ancaman serius, termasuk dari ayah dan saudara Wati. Karena kalah jumlah dan demi menghindari konflik yang lebih besar, Lastri bersama suami dan sejumlah saksi akhirnya memilih meninggalkan lokasi.
Tak lama berselang, pihak Wati melaporkan Lastri ke polisi dengan tuduhan pengeroyokan. Sebaliknya, Lastri juga menyampaikan klarifikasi kepada aparat bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh fitnah dan upaya penyerangan lebih dahulu.
Saat ini, kasus saling lapor tersebut tengah ditangani oleh Polres Manggarai Barat untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Lastri mengaku mengalami kerugian moril akibat tuduhan yang berkembang di masyarakat. Ia menilai dampak sosial dari isu perselingkuhan dan kekerasan tersebut sangat merugikan nama baiknya serta keharmonisan keluarga.
“Tuduhan itu tidak benar dan sangat merusak. Saya dan keluarga seolah sudah divonis di ruang publik,” ujarnya.
Melalui klarifikasi ini, Lastri berharap publik memperoleh gambaran yang lebih utuh dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan, serta meminta semua pihak menghormati proses hukum dan asas praduga tak bersalah.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi







