Menyingkap Tabir Klaim Tanah Batu Gosok: Siapa Pemilik Sah Lahan 11 Hektare?

- Redaksi

Senin, 2 Februari 2026 - 23:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menyingkap Tabir Klaim Tanah Batu Gosok: Siapa Pemilik Sah Lahan 11 Hektare? (Foto: Alo Oba (Kiri)-Pater Marsel Agot (Kanan)

Menyingkap Tabir Klaim Tanah Batu Gosok: Siapa Pemilik Sah Lahan 11 Hektare? (Foto: Alo Oba (Kiri)-Pater Marsel Agot (Kanan)

INFOLABUANBAJO.ID — Sengketa tanah di kawasan Batu Gosok, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, diduga berakar dari hibah tanah yang status kepemilikannya dipertanyakan. Lahan seluas sekitar 11 hektare yang kini diklaim Pater Marsel Agot, SVD, disebut bukan tanah kosong, melainkan telah lama dikuasai dan diolah keluarga Aloisius Oba sejak puluhan tahun lalu.

Seorang sumber terpercaya media ini, berinisial FS, menyatakan bahwa keluarga Alo Oba telah menempati dan mengelola lahan tersebut jauh sebelum Pater Marsel Agot berada di Labuan Bajo.

“Jadi begini! saya jelaskan bahwa Alo Oba ini sudah memiliki tanah ini jauh sebelum Pater Marsel Agot berada di Labuan Bajo bahkan jauh sebelum menerima hibah tanah di lokasi tersebut. Dimana tanah ini sudah ditempati oleh orang tua (Ayah) dari Alo Oba sejak lama (ya sejak zaman-zaman tidak enak lah). Mereka dulu tinggal disana bersama keluarganya bahkan mereka berkebun di sana,” ujar FS pada Senin siang (2/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut FS, klaim Pater Marsel Agot diduga berangkat dari hibah tanah yang diberikan oleh seorang bernama Muhamad Syair. Syair disebut menghibahkan sekitar 11 hektare tanah di kawasan Batu Gosok kepada tiga pastor, termasuk Pater Marsel Agot. Namun, FS mempertanyakan kapasitas Syair saat menghibahkan tanah tersebut.

“Baru-baru ini si Muhamad Syair hibahkan tanah di lokasi tersebut seluas kurang lebih 8 hektar kepada 3 orang Pastor (Imam Katolik. Red) yang salah satunya adalah dihibahkan kepada Pater Marsel Agot. Saya juga tidak tau apa dasar pertimbangan dari MS ini menghibahkan tanah tersebut kepada 3 Pastor. Pada intinya begini, Pater Marsel Agot menerima hibah, dan pemberi hibanya adalah Muhamad Syair, namun pertanyaan kita sekarang adalah pemberian hibah oleh Muhamad Syair ini dalam kapasitas sebagai Fungsionaris Adat alias melakukan pembagian ulang tanah pribadinya atau di atas tanah milik orang lain?,” tegas FS.

Konflik Memanas

Persoalan yang sebelumnya bersifat laten itu mencuat ke ruang publik pada Selasa siang, 27 Januari 2026. Sekitar 20 orang dilaporkan datang menggunakan sebuah truk dan memasuki lahan yang selama ini dijaga pihak Alo Oba. Sejumlah saksi menyebut beberapa orang dalam rombongan tersebut membawa parang atau senjata tajam.

Baca Juga:  Tunggakan Upah di Balik Megaproyek Mawatu Resort Labuan Bajo: Pekerja dan Pemilik Alat Berat Geruduk Lokasi Proyek

Tiga karyawan penjaga tanah Alo Oba—Simon Jeriki alias John, Mansur, dan Siprianus—mengaku mengalami intimidasi. Mereka menyebut Pater Marsel Agot melontarkan pernyataan bernada ancaman.

“Pater Marsel bilang ke kami yang berjaga di lokasi tanah Bapak Alo Oba, biar kita mati di sini,” ujar John.

Merasa keselamatan mereka terancam, para penjaga memutuskan meninggalkan lokasi.

“Mereka datang ramai-ramai naik truk. Kami takut, jadi lebih baik pulang,” tambahnya.

Bantahan Pater Marsel

Pater Marsel Agot membantah tudingan intimidasi tersebut. Dalam klarifikasi terbuka pada 31 Januari 2026, ia menyatakan kedatangannya bersama belasan orang ke lokasi semata untuk keperluan pekerjaan.

“Saya bersama 16 karyawan Yayasan Prundi datang ke lahan milik kami sendiri untuk menanam pilar dan membuat pagar batas tanah. Tidak ada niat intimidasi atau kekerasan,” ujarnya, Sabtu (31/1).

Ia menambahkan, dua orang membawa parang hanya sebagai alat kerja kebun.
“Tidak ada satu pun yang dipersiapkan untuk tujuan kekerasan,” tegasnya.
Pater Marsel juga mengaku sempat bertemu dengan John Jeriki dan Mansur. Ia menyebut percakapan berlangsung tenang dan bernuansa nasihat agar konflik tidak melebar.

Namun keterangan tersebut dibantah oleh penjaga lain. Siprianus Transurdi, yang berada di lokasi saat kejadian, menyatakan bahwa ancaman memang disampaikan.

“Benar ada ancaman, beliau berkata ‘dimana Alo Oba yang menyuruh kalian datang ke sini? Jika tidak, kami akan memanggil lagi orang dari kampung. Meskipun harus mati di sini, kami tidak takut’,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Mansur.
“Beliau dengan nada tinggi berkata ‘dimana Alo Oba yang menyuruh kalian datang? Biarkan saja kami mati di sini saja. Ini disebut purak mukang wajo kampong’,” ujarnya.

Plang Dicabut, Pemberi Hibah Menghilang

Sehari sebelum kedatangan massa, Senin malam, 26 Januari 2026, sepuluh plang permanen bertuliskan “Tanah Ini Milik Aloisius Oba” dicabut dari lokasi sengketa. Aksi itu dilakukan pada malam hari.
“Kalau siang mereka tidak berani karena kami selalu berjaga. Ini sangat meresahkan,” kata Alo Oba.

Baca Juga:  Eks Karyawan Warung Kuliner di Labuan Bajo Ancam Lapor ke Disnaker, Tegaskan Penjelasan Mantan Majikan Tidak Benar

FS menilai, konflik ini seharusnya tidak langsung memperhadapkan Pater Marsel dengan Alo Oba. Menurut dia, Muhamad Syair sebagai pihak pemberi hibah justru tidak muncul ke ruang publik.

“Semestinya dalam persoalan ini Pater Marsel Agot tidak perlu berhadapan dengan Alo Oba. Pater Marsel seharusnya datang ke Muhamad Syair untuk tanyakan kembali status tanah yang dihibahkan kepadanya itu apakah itu tanah milik pribadi atau milik orang lain?. Jadi jangan lagi Pater Marsel yang pasang badan. Saya melihatnya situasi ini malah si Muhamad Syair pangku kaki ,seolah-seolah tidak ada persoalan. Sekarang kan si Muhamad Syair pada ngumpet, ya kasarnya bahwa dia (Muhamad Syair. Red) ini mau peralatkan Pater Marsel dan kemudian membenturkan umat dengan tokoh umat,” tutur FS.

Ancaman Lapor Gereja dan Jalur Hukum
Alo Oba mengaku kecewa karena pihak yang berkonflik dengannya adalah seorang Imam Katolik.

“Kalau begini terus, saya akan lapor ke Bapak Uskup. Rasa hormat saya sudah hilang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa jalur hukum perdata merupakan mekanisme yang sah untuk menyelesaikan sengketa.
“Silakan gugat di pengadilan. Jangan gunakan cara preman karena akibatnya bisa fatal,” tegasnya.

Menurut Alo Oba, kasus Batu Gosok kembali membuka persoalan lama terkait premanisme dan mafia tanah di Labuan Bajo, yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan daerah wisata super prioritas.

“Preman-preman ini dibayar mafia lalu mempertaruhkan nyawa. Kami minta polisi bertindak tegas,” ujarnya.
Saat ini, tim hukum Alo Oba disebut tengah menyiapkan laporan resmi terkait dugaan intimidasi, pengrusakan fasilitas, serta kerugian materil.

“Semua bukti sudah kami siapkan. Dalam waktu dekat kami akan melapor,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Muhamad Syair belum memberikan keterangan. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Senin malam (2/2/2026) belum mendapat balasan.

Penulis : Tim Info Labuan Bajo

Editor : Redaksi

Berita Terkait

BREAKING NEWS: Umat Katolik Mangggarai Raya Berduka, Pastor Thomas Krump SVD Dikabarkan Meninggal Dunia
Hujan Deras Picu Sungai Meluap di Golo Mori, Warga Kampung Soknar Minta Solusi Permanen dari Pemerintah
Banjir Rendam Sejumlah Rumah Warga di Kampung Soknar, Golo Mori
Seorang Pria Babak Belur Dikeroyok 4 Orang di Labuan Bajo, Anak Korban Saksikan Ayahnya Dipukul Pakai Kayu
Aktivis Manggarai Barat Gelar Aksi Tunggal, Kritik Pedagang Liar yang Intimidasi Juru Parkir di Pasar Batu Cermin
Dewan Pers Imbau Wartawan Tidak Meminta THR ke Instansi Menjelang Idul Fitri 1447 H
Luka di Wajah Bocah Akibat Gigitan Anjing, Ancaman Rabies Masih Mengintai di Manggarai Timur
Eks Karyawan Warung Kuliner di Labuan Bajo Ancam Lapor ke Disnaker, Tegaskan Penjelasan Mantan Majikan Tidak Benar

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 19:13 WITA

BREAKING NEWS: Umat Katolik Mangggarai Raya Berduka, Pastor Thomas Krump SVD Dikabarkan Meninggal Dunia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 22:32 WITA

Hujan Deras Picu Sungai Meluap di Golo Mori, Warga Kampung Soknar Minta Solusi Permanen dari Pemerintah

Sabtu, 14 Maret 2026 - 22:06 WITA

Banjir Rendam Sejumlah Rumah Warga di Kampung Soknar, Golo Mori

Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:55 WITA

Aktivis Manggarai Barat Gelar Aksi Tunggal, Kritik Pedagang Liar yang Intimidasi Juru Parkir di Pasar Batu Cermin

Jumat, 13 Maret 2026 - 09:53 WITA

Dewan Pers Imbau Wartawan Tidak Meminta THR ke Instansi Menjelang Idul Fitri 1447 H

Berita Terbaru

Banjir Rendam Sejumlah Rumah Warga di Kampung Soknar, Golo Mori

Breaking News

Banjir Rendam Sejumlah Rumah Warga di Kampung Soknar, Golo Mori

Sabtu, 14 Mar 2026 - 22:06 WITA