Labuan Bajo Cantik untuk Difoto, Tapi Trotoarnya Mati untuk Pejalan Kaki

- Redaksi

Kamis, 19 Februari 2026 - 18:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Labuan Bajo Cantik untuk Difoto, Tapi Trotoarnya Mati untuk Pejalan Kaki

Labuan Bajo Cantik untuk Difoto, Tapi Trotoarnya Mati untuk Pejalan Kaki

INFOLABUANBAJO.ID — Di sebuah kota yang dielu-elukan sebagai wajah pariwisata masa depan Indonesia, ironi justru tumbuh subur di tempat paling mendasar: trotoar. Di Labuan Bajo, ruang yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki kini perlahan berubah fungsi menjadi lahan parkir liar. Sepeda motor berjejer rapi, seolah trotoar memang diciptakan untuk kendaraan, bukan manusia.

Pemandangan ini bukan kejadian sekali dua kali. Ini adalah rutinitas harian. Trotoar yang dibangun dengan anggaran negara, dipercantik dengan desain modern, dilengkapi jalur pemandu bagi penyandang disabilitas—semuanya lumpuh oleh satu kebiasaan: parkir sembarangan. Jalur taktil yang seharusnya membantu tunanetra berjalan mandiri justru tertutup roda dan standar motor. Ini bukan sekadar pelanggaran aturan. Ini adalah pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap ruang publik.

Labuan Bajo bukan kota biasa. Ia adalah etalase pariwisata Indonesia. Dunia datang ke sini untuk melihat keindahan alam, menikmati keramahan, dan merasakan kualitas destinasi kelas dunia. Namun apa yang terjadi ketika wisatawan melangkah keluar hotel dan mendapati trotoar dipenuhi kendaraan? Pesan yang mereka tangkap bukanlah keindahan, melainkan ketidakteraturan. Bukan kemajuan, tetapi kelalaian.

Ironisnya, penertiban bukan tidak pernah dilakukan. Aparat turun ke lapangan, teguran diberikan, bahkan razia sesekali digelar. Namun hasilnya seperti menimba air di pasir. Setelah petugas pergi, motor kembali naik ke trotoar. Fenomena ini menunjukkan satu hal yang lebih dalam: krisis kesadaran dan lemahnya konsistensi penegakan.

Masalah ini bukan sekadar soal parkir. Ini soal mentalitas kota wisata. Kota yang serius membangun pariwisata tidak akan membiarkan ruang publiknya diperlakukan sembarangan. Trotoar bukan pelengkap dekorasi, melainkan simbol peradaban. Kota-kota wisata kelas dunia memahami bahwa pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh destinasi utama, tetapi juga oleh detail kecil: kenyamanan berjalan kaki, keteraturan ruang, dan rasa hormat terhadap publik.

Baca Juga:  Mario-Richard akan Memperkuat Pengembangan Desa Wisata di Manggarai Barat

Yang terjadi di Labuan Bajo justru sebaliknya. Trotoar diperlakukan seperti ruang kosong yang bebas diambil siapa saja. Ini menunjukkan absennya rasa memiliki terhadap kota. Ketika trotoar dikuasai kendaraan, pejalan kaki dipaksa turun ke badan jalan, mempertaruhkan keselamatan mereka di antara lalu lintas kendaraan. Ini bukan hanya tidak nyaman, tetapi berbahaya.

Lebih memprihatinkan lagi, situasi ini menciptakan citra buruk bagi wajah pariwisata daerah. Manggarai Barat telah lama menggantungkan harapan ekonomi pada sektor pariwisata. Namun pariwisata tidak hanya tentang membangun hotel mewah, pelabuhan modern, atau bandara megah. Pariwisata adalah tentang tata kelola ruang yang beradab. Tanpa itu, semua investasi fisik kehilangan makna.

Trotoar yang dipenuhi motor adalah simbol kegagalan pengelolaan kota. Ia menunjukkan bahwa pembangunan masih berhenti pada infrastruktur, belum menyentuh perilaku. Padahal, kota wisata sejati dibangun bukan hanya dengan beton dan aspal, tetapi dengan disiplin dan kesadaran kolektif.

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Bangga! Meruorah Komodo Labuan Bajo Raih Sertifikat Chinese Friendly Hotel 2026 dari Trip.com Group
Di Bawah Jas Hujan Tukang Parkir: Cermin Ketertiban Pasar Batu Cermin
Meruorah Komodo Labuan Bajo Jadi Penguji UKK SMK, Siswa Kuliner Diuji Standar Hotel Bintang Lima
Pulau Kelor Labuan Bajo: Pesona Alam Tropis yang Menenangkan
Taka Makassar: Pulau Pasir Ajaib yang Muncul dari Laut, Surga Tersembunyi di Labuan Bajo
Festival Soto Nusantara Hadir di Meruorah Komodo Labuan Bajo, Sajikan 10 Varian Soto Ikonik dengan Panorama Laut Bajo
Kuota 1.000 Orang di TN Komodo Picu Kecaman, Pelaku Wisata Sebut Kebijakan Mengancam Nafas Ekonomi Labuan Bajo
Tiga Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng Tembus Finalis Putra Putri Budaya NTT

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 08:47 WITA

Bangga! Meruorah Komodo Labuan Bajo Raih Sertifikat Chinese Friendly Hotel 2026 dari Trip.com Group

Jumat, 13 Maret 2026 - 11:37 WITA

Di Bawah Jas Hujan Tukang Parkir: Cermin Ketertiban Pasar Batu Cermin

Selasa, 10 Maret 2026 - 11:06 WITA

Meruorah Komodo Labuan Bajo Jadi Penguji UKK SMK, Siswa Kuliner Diuji Standar Hotel Bintang Lima

Sabtu, 28 Februari 2026 - 20:35 WITA

Pulau Kelor Labuan Bajo: Pesona Alam Tropis yang Menenangkan

Sabtu, 21 Februari 2026 - 08:57 WITA

Taka Makassar: Pulau Pasir Ajaib yang Muncul dari Laut, Surga Tersembunyi di Labuan Bajo

Berita Terbaru

Banjir Rendam Sejumlah Rumah Warga di Kampung Soknar, Golo Mori

Breaking News

Banjir Rendam Sejumlah Rumah Warga di Kampung Soknar, Golo Mori

Sabtu, 14 Mar 2026 - 22:06 WITA