INFOLABUANBAJO.ID — Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, sebuah peristiwa besar yang mengguncang Timur Tengah dan membawa Iran ke situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu pagi, beberapa jam setelah pejabat AS dan Israel menyatakan bahwa ia tewas dalam serangan yang secara khusus menargetkan rezim Iran. Laporan media menyebutkan bahwa Khamenei tewas di kompleks kediaman dan kantornya di Teheran saat menjalankan tugas kenegaraan.
Lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, menyebut kematian tersebut sebagai “kesyahidan Pemimpin Tertinggi Iran”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama hampir empat dekade, Khamenei memerintah Iran dengan tangan besi, menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, menekan oposisi dalam negeri, serta mengembangkan program nuklir kontroversial yang menjadikan Iran salah satu kekuatan paling ditakuti di kawasan.
Namun kematiannya terjadi saat Iran berada dalam kondisi paling lemah sejak ia berkuasa pada 1989. Sanksi Barat selama puluhan tahun telah melumpuhkan ekonomi Iran, diperparah oleh serangan militer AS dan Israel pada Juni 2025 yang menghancurkan infrastruktur strategis negara itu.
Serangan terbaru pada 28 Februari secara khusus menargetkan Khamenei dan para pemimpin puncak Iran, menghancurkan kediaman serta fasilitas kepemimpinannya di Teheran. Citra satelit menunjukkan kepulan asap hitam dan bangunan-bangunan yang rusak parah.
Serangan ini terjadi setelah gelombang besar demonstrasi rakyat Iran akibat krisis ekonomi, yang berubah menjadi protes politik nasional. Rezim Iran merespons dengan represi brutal, menewaskan ribuan demonstran dan memicu kecaman global.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer dilakukan untuk mencegah Iran menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika, serta menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.
“Poros Perlawanan” (Axis of Resistance)
Di bawah kepemimpinan Khamenei, Iran membangun jaringan kekuatan regional yang dikenal sebagai “Axis of Resistance”, yang mencakup kelompok-kelompok proksi seperti Hezbollah, Hamas, milisi Syiah di Irak dan Suriah, serta Houthi di Yaman. Jaringan ini memungkinkan Iran memproyeksikan kekuatan jauh melampaui perbatasannya.
Namun jaringan tersebut mulai runtuh setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang besar di kawasan. Israel menghancurkan Hamas, melemahkan Hezbollah, masuk ke Suriah setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad, dan akhirnya melancarkan serangan langsung ke Iran pada Juni 2025.
Perang 12 hari itu melibatkan serangan Israel dan Amerika ke fasilitas nuklir Iran. Trump mengklaim fasilitas tersebut “dihancurkan total”. Sejak itu, Iran kehilangan sebagian besar kekuatan tawarnya, baik dari sisi nuklir maupun jaringan proksi regional.
Program Nuklir yang Berbalik Menjadi Bumerang
Khamenei memandang program nuklir Iran sebagai simbol kedaulatan nasional dan alat tawar strategis. Meski mengeluarkan fatwa bahwa senjata nuklir haram, ia tetap mendorong pengayaan uranium.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







