INFLABUANBAJO.ID – Dugaan praktik prostitusi daring kembali mencuat di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sebuah penginapan yang berada di belakang Pasar Wae Sambi, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo bernama New Chez Felix disebut-sebut menjadi lokasi transaksi jasa seksual melalui aplikasi percakapan MiChat dengan sistem Open Booking Out (Open BO).
Bangunan penginapan berlantai dua itu berjarak sekitar 200 meter dari Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Kesambi. Letaknya yang berada di kawasan padat aktivitas ekonomi membuat isu ini cepat menyebar dan memicu keresahan warga.
Berdasarkan informasi yang beredar, sejumlah akun perempuan di aplikasi MiChat secara terbuka mencantumkan lokasi operasi mereka di penginapan tersebut. Tarif yang dipasang berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali pertemuan. Dalam verifikasi lapangan, seorang perempuan berinisial A mengaku telah lama tinggal di penginapan itu dan menawarkan jasa kepada tamu. Ia menyebut dalam sehari dapat melayani hingga delapan orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pemilik penginapan membantah terlibat atau mengetahui secara pasti aktivitas tersebut. Istri pemilik tidak mengelak bahwa praktik serupa terjadi di berbagai tempat, namun ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sang pemilik, yang diketahui bernama Iron, menegaskan bahwa tanggung jawabnya sebatas pada penyewaan kamar. “Begini, saya mau jelaskan, di mana pun penginapan, kalau ada yang begitu itu urusannya tamu. Saya bukan punya urusan, entah mereka prostitusi,” katanya kepada wartawan pada Selasa 3 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa fokus usahanya hanya pada pelayanan penginapan. “Saya punya urusan setiap hari mereka bayar kamar, itu saja. Saya tidak tahu apa profesinya. Siapa saja yang datang sebagai tamu, dia bayar, saya terima. Tidak ada urusan dia punya profesi, entah pencuri saya tidak ada urusan,” ujarnya.
Iron juga menyebut pemberitaan yang beredar tidak sepenuhnya benar dan menegaskan dirinya tidak memiliki kepentingan apa pun terkait isu tersebut. “Saya menganggap berita yang beredar itu tidak benar. Saya tidak ada kepentingan dengan berita itu. Saya bukan pejabat, silakan mau tulis itu, saya tidak goyang. Saya tidak ada urusan,” katanya.
Ia menegaskan kembali bahwa tanggung jawabnya terbatas pada kebersihan dan fasilitas kamar. “Urusan saya, saya bersihkan kamar, fasilitasnya sesuai kebutuhan kamar. Hal-hal mereka profesi apa, saya tidak tahu.”
Sementara itu, data Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat mencatat terdapat 26 kasus sifilis sepanjang periode 2024–2025 serta 174 kasus HIV/AIDS hingga Juli 2025, dengan 13 orang dilaporkan meninggal dunia. Di tengah status Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas nasional, isu praktik prostitusi daring dinilai berpotensi berdampak pada aspek kesehatan masyarakat dan citra daerah.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait dugaan aktivitas tersebut maupun langkah penindakan yang akan diambil.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi







