Di Bawah Jas Hujan Tukang Parkir: Cermin Ketertiban Pasar Batu Cermin

- Redaksi

Jumat, 13 Maret 2026 - 11:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di Bawah Jas Hujan Tukang Parkir: Cermin Ketertiban Pasar Batu Cermin

Di Bawah Jas Hujan Tukang Parkir: Cermin Ketertiban Pasar Batu Cermin

Oleh: Om EK

INFOLABUANBAJO.ID — Sebuah video yang beredar di Facebook melalui akun Facebook Info Labuan Bajo memperlihatkan cekcok antara seorang tukang parkir dan dua orang pemuda yang disebut sebagai pedagang di Jalan Raya depan Pasar Batu Cermin. Peristiwa itu terjadi saat hujan masih turun atau sesaat setelah reda. Jalan tampak basah, dan beberapa orang—termasuk tukang parkir tersebut—mengenakan jas hujan. Suasana pasar yang biasanya riuh oleh aktivitas jual beli mendadak berubah tegang.

Video itu mungkin hanya beberapa detik, tetapi ia mengingatkan pada kejadian serupa beberapa bulan lalu di tempat yang sama, ketika seorang tukang parkir juga terlibat perkelahian dengan seorang anak muda. Kini kembali terjadi cekcok—bahkan terlihat saling dorong—antara tukang parkir dan dua pemuda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita tentu tidak mengetahui secara utuh apa yang terjadi sebelum kamera merekam peristiwa itu. Bisa saja ada kesalahpahaman, emosi yang memuncak, atau situasi yang memanas karena padatnya aktivitas di sekitar pasar. Namun ada satu hal yang patut menjadi perhatian: tukang parkir yang terlihat dalam video itu bukan orang muda. Usianya sudah cukup lanjut.

Baca Juga:  Duka di Ngada: Saat Administrasi Menjadi Tembok Penentu Hidup dan Mati

Saya mengenalnya—atau setidaknya sering melihatnya. Hampir setiap kali ke Pasar Batu Cermin, bapak tua itu tampak berdiri di tepi jalan, membantu kendaraan keluar-masuk, mengatur ruang sempit di antara deretan motor dan mobil, sesekali menepi ketika kendaraan besar melintas. Ia bekerja di ruang yang tidak mudah.

Menjadi tukang parkir bukan pekerjaan ringan. Mereka berdiri berjam-jam di pinggir jalan, menghadapi panas, hujan, asap kendaraan, serta hiruk-pikuk pasar. Mereka harus sigap membaca situasi, mengatur kendaraan di ruang terbatas, menjaga agar lalu lintas tetap lancar, sekaligus memastikan kendaraan pengunjung aman. Upah yang diterima pun tidak besar. Namun pekerjaan itu dijalani dengan kesabaran.

Baca Juga:  Pilkada Mabar, Militansi Dukungan Untuk Mario-Richard Semakin Membeludak

Karena itu, ketika melihat seorang bapak yang usianya tidak muda lagi harus terlibat cekcok dengan anak-anak muda, hati kecil kita tentu terusik. Bukan untuk segera menyimpulkan siapa yang benar atau salah. Peristiwa seperti ini justru mengingatkan kita pada nilai yang selama ini dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Manggarai—dan masyarakat timur pada umumnya—yakni penghormatan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang lebih tua.

Dalam adat dan tradisi kita, orang yang lebih tua dipandang sebagai sosok yang patut dihormati. Martabat mereka dijaga, keberadaannya dihargai, dan mereka diperlakukan dengan sikap yang santun. Nilai ini bukan sekadar norma sopan santun, tetapi bagian dari etika sosial yang diwariskan turun-temurun.

Penulis : Om EK

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Labuan Bajo Cantik untuk Difoto, Tapi Trotoarnya Mati untuk Pejalan Kaki
Ketika Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat Jadi “Dewa Pers”
Duka di Ngada: Saat Administrasi Menjadi Tembok Penentu Hidup dan Mati
Labuan Bajo: Belajar dari Bali Menata Keselamatan Pariwisata Super Premium
Selain KSOP, Pemilik Kapal Juga Harus Diproses Hukum
Surat Ada, Nyawa Melayang: Mengapa KSOP Membiarkan Kapal Tetap Berlayar ke Padar?
DPRD Manggarai Barat dan Keberanian yang Hilang di Pulau Sebayur
Lebih Sayang Binatang Ketimbang Nyawa Manusia? Catatan Kritis untuk Kasus Gigitan Anjing Rabies di Manggarai Raya

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 11:37 WITA

Di Bawah Jas Hujan Tukang Parkir: Cermin Ketertiban Pasar Batu Cermin

Kamis, 19 Februari 2026 - 18:16 WITA

Labuan Bajo Cantik untuk Difoto, Tapi Trotoarnya Mati untuk Pejalan Kaki

Rabu, 11 Februari 2026 - 09:35 WITA

Ketika Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat Jadi “Dewa Pers”

Kamis, 5 Februari 2026 - 12:25 WITA

Duka di Ngada: Saat Administrasi Menjadi Tembok Penentu Hidup dan Mati

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:35 WITA

Labuan Bajo: Belajar dari Bali Menata Keselamatan Pariwisata Super Premium

Berita Terbaru