Oleh: Om EK
INFOLABUANBAJO.ID — Sebuah video yang beredar di Facebook melalui akun Facebook Info Labuan Bajo memperlihatkan cekcok antara seorang tukang parkir dan dua orang pemuda yang disebut sebagai pedagang di Jalan Raya depan Pasar Batu Cermin. Peristiwa itu terjadi saat hujan masih turun atau sesaat setelah reda. Jalan tampak basah, dan beberapa orang—termasuk tukang parkir tersebut—mengenakan jas hujan. Suasana pasar yang biasanya riuh oleh aktivitas jual beli mendadak berubah tegang.
Video itu mungkin hanya beberapa detik, tetapi ia mengingatkan pada kejadian serupa beberapa bulan lalu di tempat yang sama, ketika seorang tukang parkir juga terlibat perkelahian dengan seorang anak muda. Kini kembali terjadi cekcok—bahkan terlihat saling dorong—antara tukang parkir dan dua pemuda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita tentu tidak mengetahui secara utuh apa yang terjadi sebelum kamera merekam peristiwa itu. Bisa saja ada kesalahpahaman, emosi yang memuncak, atau situasi yang memanas karena padatnya aktivitas di sekitar pasar. Namun ada satu hal yang patut menjadi perhatian: tukang parkir yang terlihat dalam video itu bukan orang muda. Usianya sudah cukup lanjut.
Saya mengenalnya—atau setidaknya sering melihatnya. Hampir setiap kali ke Pasar Batu Cermin, bapak tua itu tampak berdiri di tepi jalan, membantu kendaraan keluar-masuk, mengatur ruang sempit di antara deretan motor dan mobil, sesekali menepi ketika kendaraan besar melintas. Ia bekerja di ruang yang tidak mudah.
Menjadi tukang parkir bukan pekerjaan ringan. Mereka berdiri berjam-jam di pinggir jalan, menghadapi panas, hujan, asap kendaraan, serta hiruk-pikuk pasar. Mereka harus sigap membaca situasi, mengatur kendaraan di ruang terbatas, menjaga agar lalu lintas tetap lancar, sekaligus memastikan kendaraan pengunjung aman. Upah yang diterima pun tidak besar. Namun pekerjaan itu dijalani dengan kesabaran.
Karena itu, ketika melihat seorang bapak yang usianya tidak muda lagi harus terlibat cekcok dengan anak-anak muda, hati kecil kita tentu terusik. Bukan untuk segera menyimpulkan siapa yang benar atau salah. Peristiwa seperti ini justru mengingatkan kita pada nilai yang selama ini dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Manggarai—dan masyarakat timur pada umumnya—yakni penghormatan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang lebih tua.
Dalam adat dan tradisi kita, orang yang lebih tua dipandang sebagai sosok yang patut dihormati. Martabat mereka dijaga, keberadaannya dihargai, dan mereka diperlakukan dengan sikap yang santun. Nilai ini bukan sekadar norma sopan santun, tetapi bagian dari etika sosial yang diwariskan turun-temurun.
Penulis : Om EK
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







