INFOLABUANBAJO.ID — Suasana Pasar Batu Cermin, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Sabtu pagi, 14 Maret 2026, tampak seperti biasanya. Pedagang sibuk melayani pembeli, kendaraan keluar-masuk area parkir, dan hiruk-pikuk transaksi berlangsung di berbagai sudut pasar. Namun di tengah keramaian itu, seorang pria berdiri sendirian di tepi jalan dengan membawa poster bertuliskan sejumlah tuntutan.
Pria itu adalah Ricky Morgan, seorang aktivis sosial di Manggarai Barat. Ia menggelar aksi tunggal sebagai bentuk protes terhadap dugaan intimidasi yang dialami juru parkir di kawasan pasar tersebut.
Aksi itu berlangsung tanpa pengeras suara dan tanpa kerumunan massa. Ricky hanya berdiri sambil memegang poster dan sesekali berbicara kepada warga yang mendekat untuk membaca pesannya. Namun keberadaannya cukup menyita perhatian pengunjung pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Semua bentuk kekerasan atau intimidasi terhadap juru parkir harus dihentikan. Mereka menjalankan tugas yang diberikan oleh pemerintah,” kata Ricky saat ditemui di lokasi aksi.
Menurut Ricky, aksinya merupakan respons terhadap peristiwa cekcok antara pedagang dan juru parkir yang sebelumnya sempat menjadi perbincangan warga. Insiden itu terekam dalam video yang beredar di media sosial dan memicu diskusi tentang ketertiban di kawasan pasar.
Dalam poster yang dibawanya, Ricky menyampaikan beberapa tuntutan. Salah satunya adalah penghentian segala bentuk kekerasan maupun tindakan premanisme terhadap petugas parkir yang bertugas di Pasar Wae Kesambi.
Ia juga menyoroti keberadaan pedagang yang berjualan di bahu jalan. Praktik tersebut, menurut dia, berpotensi mengganggu arus lalu lintas dan memicu konflik dengan petugas di lapangan.
“Semua orang yang datang dan beraktivitas di sini harus menghormati aturan dan menghargai masyarakat setempat,” ujarnya.
Ricky mengingatkan bahwa Labuan Bajo kini berkembang pesat sebagai destinasi pariwisata. Aktivitas ekonomi yang meningkat di kawasan pasar tradisional, kata dia, perlu diimbangi dengan penataan ruang publik yang tertib.
Bagi Ricky, persoalan ini bukan sekadar soal parkir atau pedagang kaki lima. Ia melihatnya sebagai bagian dari dinamika sosial antara masyarakat lokal, pedagang pendatang, dan aparat pengelola pasar.
“Yang kita jaga sebenarnya adalah ketenangan dan martabat masyarakat di sini,” katanya.
Beberapa warga yang melintas tampak berhenti sejenak untuk membaca isi poster yang dibawanya. Sebagian lainnya hanya memperhatikan dari kejauhan sebelum kembali melanjutkan aktivitas mereka.
Di tengah aksi tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Manggarai Barat, Gabriel Bagung, kebetulan berada di kawasan Pasar Batu Cermin yang tidak jauh dari lokasi.
Ia menyatakan mengapresiasi kepedulian masyarakat terhadap kondisi pasar.
“Saya selaku Kepala Dinas Perindagkop mengapresiasi masyarakat yang peduli terhadap kesemrawutan pasar,” kata Gabriel.
Menurut dia, pemerintah daerah bersama sejumlah instansi teknis seperti Satuan Polisi Pamong Praja dan Dinas Perhubungan telah berupaya menertibkan pedagang yang berjualan di luar area yang telah disediakan.
Namun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







