INFOLABUANBAJO.ID — Minggu sore itu, 22 Maret 2026, Lapangan Paroki Reweng tak sekadar menjadi arena pertandingan sepak bola. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan—tempat solidaritas, hiburan, dan harapan berkelindan dalam satu momentum yang jarang terjadi.
Ratusan warga dari berbagai penjuru memadati sisi lapangan sejak siang. Sebagian duduk di bangku darurat, lainnya berdiri berdesakan di pinggir garis lapangan. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan pembuka turnamen amal, tetapi juga untuk menjadi bagian dari upaya bersama: menggalang dana pembangunan Gereja Paroki Reweng.
Sorotan utama hari itu tertuju pada Singa Tua FC, klub asal Labuan Bajo yang dikenal lebih sebagai komunitas lintas profesi ketimbang tim sepak bola konvensional. Di balik jersey yang mereka kenakan, terdapat beragam latar belakang: anggota kepolisian, pejabat pemerintahan, legislator, jurnalis, hingga pelaku usaha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menjelang peluit awal dibunyikan, suasana mendadak hening ketika Kapten tim, Siprianus Angelo menyerahkan donasi sebesar Rp12,5 juta kepada panitia pembangunan gereja. Tepuk tangan panjang mengiringi momen tersebut—bukan sekadar apresiasi, tetapi juga pengakuan atas sebuah gestur kolektif yang melampaui olahraga.
Anggota DPRD Manggarai Barat Sipri Anjelo kemudian berdiri di tengah lapangan, menyampaikan pesan yang mencerminkan identitas timnya. Ia menekankan bahwa Singa Tua FC bukan hanya tentang sepak bola, melainkan tentang kebersamaan yang lahir dari keberagaman profesi dan latar belakang.
“Kami ini kumpulan orang dengan pekerjaan yang berbeda-beda. Tapi hari ini kami hadir dengan tujuan yang sama,” ujarnya.
Pertandingan persahabatan melawan kesebelasan panitia kemudian dimulai. Tempo permainan cukup tinggi untuk ukuran laga non-kompetitif. Singa Tua FC akhirnya menang 2-1, dengan salah satu gol dicetak langsung oleh Sipri melalui tendangan keras dari luar kotak penalti—sebuah momen yang langsung disambut riuh penonton.
Namun, cerita hari itu tak berhenti di papan skor.
Di pinggir lapangan, panitia menjalankan peti kolekte. Tanpa paksaan, penonton satu per satu menyisihkan uang mereka. Hingga pertandingan usai, terkumpul tambahan Rp1,45 juta—angka yang mungkin terlihat kecil dibanding donasi utama, tetapi sarat makna partisipasi.
Paul, salah satu warga yang hadir, mengaku terkesan bukan hanya oleh permainan, tetapi juga oleh kehadiran tim tamu.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







