INFOLABUANBAJO.ID – Perayaan Tri Hari Suci dalam tradisi Gereja Katolik kerap memunculkan pertanyaan sederhana namun menarik: mengapa disebut “tiga hari suci” jika dirayakan selama empat hari berturut-turut, yakni Kamis, Jumat, Sabtu, hingga Minggu? Secara sepintas, hal ini tampak seperti kontradiksi. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, konsep Tri Hari Suci justru menyimpan makna teologis yang sangat kaya dan berakar kuat dalam tradisi kuno Gereja.
Tri Hari Suci, atau dalam bahasa Latin disebut Triduum Sacrum, merupakan puncak dari seluruh rangkaian masa Prapaskah dalam kalender liturgi Katolik. Perayaan ini mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus—tiga peristiwa utama yang menjadi inti iman Kristiani. Meskipun berlangsung dalam rentang waktu empat hari kalender, secara liturgis Tri Hari Suci dihitung sebagai satu kesatuan tiga hari yang tidak terpisahkan.
Perayaan ini dimulai pada Kamis Putih, yang dalam Gereja Katolik dikenal sebagai . Pada hari ini, umat mengenang Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Dalam perjamuan tersebut, Yesus menetapkan Ekaristi sebagai sakramen utama dalam Gereja. Misa Kamis Putih biasanya dilaksanakan pada malam hari, menandai dimulainya Tri Hari Suci secara resmi. Liturgi pada hari ini juga diwarnai dengan ritus pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari kedua adalah Jumat Agung , yang memperingati sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. Berbeda dengan hari lainnya, pada Jumat Agung tidak dirayakan misa. Sebagai gantinya, umat mengikuti ibadat penghormatan salib dan mengenang pengorbanan Yesus demi keselamatan manusia. Suasana pada hari ini sangat hening dan penuh refleksi, menggambarkan duka mendalam atas penderitaan Kristus.
Selanjutnya, umat memasuki Sabtu Suci , hari yang sering disebut sebagai masa penantian. Gereja berada dalam suasana sunyi, mengenang saat Yesus berada di dalam makam. Tidak ada perayaan liturgi besar pada siang hari, namun pada malam harinya digelar Vigili Paskah—salah satu liturgi paling khidmat dalam tradisi Katolik. Dalam perayaan ini, umat menyalakan lilin sebagai simbol terang kebangkitan yang mengalahkan kegelapan.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







