INFOLABUANBAJO.ID — Persaingan bisnis transportasi darat di Labuan Bajo kian mengeras dan berubah menjadi konflik terbuka. Benturan kepentingan antara transportasi konvensional dan layanan berbasis aplikasi kini tak lagi sebatas adu argumen, tetapi mulai merambah pada aksi-aksi di lapangan yang beraroma intimidasi dan kekerasan simbolik.
Ketegangan terbaru pecah di kawasan Bandara Komodo, Jumat (27/2/2026). Seorang mitra pengemudi GrabBike dilaporkan mengalami pengadangan dan penyitaan kunci motor saat melakukan penjemputan penumpang. Insiden itu menyeret dua kekuatan besar transportasi darat lokal: Asosiasi Angkutan Wisata Darat (AWSTAR) Labuan Bajo dan mitra pengemudi Grab.
Bandara yang seharusnya menjadi simbol keterbukaan pariwisata dan keramahan layanan justru berubah menjadi panggung konflik kepentingan ekonomi. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa persaingan transportasi di kota wisata super prioritas ini telah memasuki fase keras: saling klaim ruang, saling kuasai akses penumpang, dan saling tekan secara langsung di ruang publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi tersebut berujung pada pertemuan tegang di Satuan Lalu Lintas Polres Manggarai Barat. Audiensi antara perwakilan AWSTAR dan mitra Grab berlangsung alot, namun tidak menghasilkan kesepakatan tertulis. Tidak ada aturan final, tidak ada titik temu konkret—hanya janji dialog lanjutan di tengah bara konflik yang masih menyala.
Ketua Umum AWSTAR Labuan Bajo, Heribertus Bantuk, secara terbuka menyatakan penolakan terhadap aktivitas penjemputan GrabBike di pintu keluar bandara. Ia menilai kehadiran ojek online di area tersebut mengganggu arus lalu lintas dan berpotensi menciptakan kemacetan.
“Tidak boleh menjemput tamu di depan Bandara Komodo, dalam hal ini GrabBike,” tegas Heribertus.
Ia juga menyebut telah ada kesepakatan informal sebelumnya agar ojek online tidak mengambil penumpang langsung di pintu keluar bandara. Namun di balik alasan ketertiban lalu lintas, konflik ini mencerminkan perebutan ruang ekonomi dan akses pasar penumpang yang semakin sempit.
Tak hanya GrabBike, AWSTAR bahkan secara terbuka menolak rencana operasional GrabCar di Labuan Bajo. Alasannya klasik namun sensitif: tarif aplikasi dinilai terlalu murah dan berpotensi mematikan pengemudi lokal transportasi konvensional.
“Kami bukan menolak teknologi, tapi harga yang ditawarkan tidak seimbang dengan biaya operasional di kota kecil seperti Labuan Bajo,” ujar Heribertus.
Di sisi lain, pihak Grab menilai tindakan penyitaan kunci motor sebagai bentuk intimidasi dan kekerasan non-fisik terhadap pengemudi.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







