Jalanan porak-poranda, jembatan roboh, dan puluhan mobil terseret derasnya banjir. Tak hanya rumah-rumah yang tergenang, tetapi juga sekolah, pasar, hingga tempat ibadah tak luput dari amukan air.
Yang membuat warga makin panik: peristiwa ini terjadi bukan karena badai besar atau siklon tropis, melainkan akibat kombinasi curah hujan tak lazim dan gelombang laut yang menahan aliran sungai. “Ini benar-benar di luar nalar. Musim kemarau kok bisa banjir,” kata Sahrullah, masih dengan napas tersengal.
Peristiwa ini juga bukan kali pertama. Pada tahun 2022, Sungai Ancar sempat meluap, tapi air hanya sebatas kamar mandi. Kali ini, seluruh rumah terendam. Dinding rumah warga menyimpan jejak ketinggian air, seolah menjadi pengingat bisu bahwa ancaman iklim kini semakin tak bisa diprediksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga berita ini diturunkan, ribuan warga masih membersihkan rumah mereka dari sisa lumpur. Sementara itu, aparat gabungan dari BPBD, TNI, dan relawan bahu-membahu menyalurkan bantuan logistik dan mendirikan posko pengungsian.
“Musim kemarau kini tak lagi jadi jaminan keselamatan. Alam seperti tak lagi mengenal jadwal,” ujar Kepala BPBD NTB dengan nada prihatin.
Warga kini hanya bisa berharap langit kembali bersahabat, sementara mereka perlahan membangun kembali harapan dari sisa lumpur yang menutupi lantai kehidupan mereka. ***
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







