Igen menyerukan agar Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, turun langsung melihat kondisi Desa Jaong dan segera memprioritaskan pembangunan jembatan di empat titik sungai tersebut. Ia juga mendesak agar pemerintah daerah menghentikan proyek-proyek besar yang belum mendesak dan memusatkan anggaran pada infrastruktur vital seperti jembatan dan jalan desa.
“Batalkan dulu proyek yang tidak mendesak! Bangun jembatan yang menyelamatkan nyawa rakyat,” ujar Igen dengan nada tegas.
Dampak Sosial dan Ekonomi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak adanya jembatan bukan hanya menelan korban jiwa, tapi juga menjerat Desa Jaong dalam lingkaran ketertinggalan. Akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lumpuh setiap kali hujan datang. Anak-anak kerap absen sekolah karena takut menyeberangi sungai, sementara petani kehilangan kesempatan menjual hasil panen tepat waktu.
“Jembatan adalah pintu menuju pendidikan. Tanpa itu, harapan anak-anak kami ikut tenggelam bersama arus,” tutur Igen.
Selain itu, warga juga kesulitan mendapatkan layanan medis darurat karena ambulans tidak bisa melintasi sungai. Dalam beberapa kasus, pasien harus digendong menyeberangi arus deras untuk mencapai jalan utama.
Harapan untuk Tindakan Nyata
Warga Jaong kini berharap tragedi ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah provinsi dan kabupaten. Mereka menuntut langkah konkret, bukan sekadar janji.
“Cukup sudah air mata dan nyawa yang hilang. Kami tidak ingin ada Jesen berikutnya. Bangunlah jembatan itu sekarang, demi kemanusiaan,” tutup Igen.
Tragedi di Desa Jaong kembali menyoroti ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman Nusa Tenggara Timur. Di saat sejumlah proyek besar terus berjalan di kota-kota besar, desa-desa seperti Jaong masih harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyeberangi sungai. **
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







