INFOLABUANBAJO.ID — Foto sejumlah aparatur sipil negara (ASN) Manggarai Barat yang diduga tengah pesta minuman keras saat jam kerja, bahkan mengenakan seragam dinas, dipastikan merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Foto tersebut sebelumnya beredar luas di media sosial dan menjadi rujukan pemberitaan sejumlah situs media.
Dalam gambar itu, tampak beberapa pria berseragam duduk santai di sebuah kafe dengan minuman di atas meja. Narasi yang menyertai foto menyebut mereka sedang mengonsumsi minuman keras pada jam kerja.
Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, mengatakan pemerintah daerah segera menelusuri informasi tersebut begitu pemberitaan muncul. Ia memanggil sejumlah kepala perangkat daerah terkait untuk melakukan klarifikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya perintahkan untuk telusuri. Kalau benar, harus diberi sanksi paling berat karena mencoreng nama baik ASN,” kata Fransiskus, Rabu, 11 Februari 2026.
Namun hasil penelusuran internal menyimpulkan bahwa informasi dalam pemberitaan itu tidak sesuai fakta. Sumbernya hanya satu frame foto yang ternyata telah dimanipulasi menggunakan aplikasi AI.
Foto tersebut diakui dibuat oleh Natalius Junaidi Jemadu, Analis Kebijakan Ahli Muda pada Bagian Persidangan dan Perundang-Undangan Sekretariat DPRD Manggarai Barat. Kepada wartawan, Natalius—yang akrab disapa Nedy—mengatakan foto asli diambil pada Selasa, 10 Februari 2026, sekitar pukul 17.30 Wita.
Saat itu, kata dia, ia bersama rekan-rekannya sedang makan mi goreng di kantin belakang kantor setelah mengikuti rapat dengar pendapat seharian.
“Itu foto saya ambil pakai HP. Kami sedang makan mie di kantin, bukan di kafe,” ujarnya.
Nedy mengaku kemudian mengunggah foto tersebut ke aplikasi Gemini AI milik Google dan memberi perintah untuk mengubah latar belakang serta objek di atas meja.
“Saya coba perintahkan AI untuk buatkan foto ini sedang duduk santai dan minum di kafe,” katanya. Dalam versi hasil rekayasa, muncul latar kafe lengkap dengan gelas minuman, camilan, bahkan botol yang menyerupai minuman keras.
Padahal, menurut dia, dalam foto asli tidak terdapat kopi, apalagi minuman keras. “Tidak ada kacang, tidak ada espresso, apalagi miras. Itu semua hasil rekayasa AI,” ujar Nedy.
Foto hasil olahan AI itu kemudian dipasang sebagai status WhatsApp dengan keterangan “Rehat”. Tanpa diduga, tangkapan layar status tersebut menyebar ke berbagai platform media sosial. Beberapa situs media lalu menggunakannya sebagai dasar pemberitaan.
Selain itu, Nedy juga mengirim satu foto hasil rekayasa AI lainnya ke grup WhatsApp internal Setwan. Dalam gambar tersebut, salah satu rekannya tampak duduk bersama dua perempuan. Ia mengakui foto itu juga hasil manipulasi AI dan dibuat sebagai candaan internal.
“Aslinya tidak ada perempuan di situ. Itu cuma iseng,” katanya.
Atas kegaduhan yang timbul, Nedy menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan dan publik. Ia mengaku tidak menyangka unggahan yang dimaksudkan sebagai guyonan akan meluas dan memicu polemik.
Kasus ini kembali menyoroti risiko penyalahgunaan teknologi AI dalam memproduksi konten visual yang menyerupai fakta. Tanpa verifikasi memadai, satu potongan gambar dapat berkembang menjadi informasi yang menyesatkan dan berdampak pada reputasi individu maupun institusi.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi






