INFOLABUANBAJO.ID — Sebuah foto yang memperlihatkan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) Manggarai Barat duduk santai dengan minuman di atas meja memantik kegaduhan publik pada awal pekan ini. Gambar itu beredar luas di WhatsApp dan media sosial, lalu diangkat sejumlah situs media dengan narasi bahwa tiga ASN tengah minum sopi oplosan saat jam kerja, bahkan masih mengenakan seragam dinas.
Namun, klarifikasi yang menyusul justru membuka lapisan persoalan baru: foto itu disebut sebagai hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, pengakuan pembuatnya di hadapan Sekretaris Daerah (Sekda) Manggarai Barat memunculkan inkonsistensi yang menimbulkan tanda tanya.
Ultimatum Sekda
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekda Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, merespons cepat pemberitaan tersebut. Ia memanggil kepala perangkat daerah terkait dan memerintahkan penelusuran menyeluruh. Jika terbukti benar, ia menyatakan ASN yang terlibat harus dijatuhi sanksi berat.
“Saya memberi ultimatum, jika pemberitaan itu benar adanya, ASN dimaksud harus diberi hukuman paling berat, sebab perbuatan itu mencoreng nama baik ASN,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Langkah cepat ini menunjukkan sensitivitas pemerintah daerah terhadap isu disiplin ASN. Terlebih, tudingan pesta minuman keras di jam kerja dan dalam atribut dinas berpotensi merusak kredibilitas birokrasi di daerah yang kini menjadi salah satu destinasi pariwisata superprioritas nasional.
Pengakuan: Rekayasa AI untuk Candaan
Beberapa jam setelah ultimatum itu, muncul klarifikasi dari Natalius Junaidi Jemadu—disebut juga Nedy—Analis Kebijakan Ahli Muda pada Bagian Persidangan dan Perundang-Undangan Sekretariat DPRD Manggarai Barat.
Ia mengakui bahwa foto yang beredar merupakan hasil manipulasi menggunakan aplikasi Gemini AI. Menurut dia, foto asli diambil pada Selasa (10/2/2026) sekitar pukul 17.30 WITA, setelah seharian mengikuti rapat dengar pendapat. Saat itu, ia dan rekan-rekannya sedang makan mi goreng di kantin belakang kantor Sekretariat DPRD.
“Saya coba memberi perintah pada AI, buatkan foto ini sedang duduk santai dan minum di kafe,” kata Nedy. Ia menyebut tak ada kacang, gelas kopi, apalagi botol minuman keras di meja saat foto asli diambil.
Foto hasil rekayasa itu kemudian ia unggah di status WhatsApp dengan keterangan “Rehat”. Tanpa diduga, gambar tersebut diambil tangkapan layarnya oleh pihak lain dan menyebar ke berbagai platform, bahkan menjadi rujukan pemberitaan sejumlah media daring.
Tak hanya satu, Nedy juga mengirimkan satu frame foto hasil rekayasa AI ke grup WhatsApp internal Setwan. Dalam gambar itu, tampak seorang pria menikmati minuman ditemani dua perempuan. “Itu rekayasa AI. Saya iseng buat itu,” ujarnya, seraya meminta maaf atas kegaduhan yang timbul.
Inkonsistensi dan Sopi BM
Masalah tak berhenti pada pengakuan soal AI. Ketika sejumlah awak media bertemu langsung dengan Sekda dan pihak terkait di ruang kerja Sekda, muncul perbedaan keterangan.
Awalnya, Nedy menyebut dalam momen itu hanya ada tiga orang. Lalu berubah menjadi empat. Namun ketika wartawan menunjukkan foto di status WhatsApp yang memperlihatkan lima orang—termasuk dirinya—ia mengakui jumlah tersebut.
Sekda pun menegur. “Kok berubah lagi, katanya tadi empat orang, sekarang lima orang lagi. Yang benar sedikit,” ujarnya.
Situasi kian rumit ketika Nedy mengakui bahwa pada siang hari itu ia memang dimintai tolong oleh “bapa mantu”-nya di Ruteng untuk membeli sopi BM. Ia lalu meminta bantuan seorang petugas keamanan kantor untuk membelinya. Botol sopi tersebut, menurut pengakuannya, sempat berada di atas meja.
“Tidak Pa Sekda, saya tidak minum. Sopi itu dipesan oleh bapa mantu saya,” katanya.
Pengakuan ini beririsan dengan klarifikasi sebelumnya yang menyatakan tak ada minuman keras di atas meja sebagaimana terlihat dalam foto AI. Pernyataan yang berubah-ubah inilah yang memicu pertanyaan lanjutan: jika foto itu rekayasa, bagaimana dengan keberadaan sopi yang diakui sempat ada di meja?
“Saya coba memberi perintah pada AI, buatkan foto ini sedang duduk santai dan minum di kafe,” terangnya, seraya menambahkan bahwa saat itu, tidak ada kacang, gelas kopi atau bahkan botol minuman keras di atas meja, sebagaimana nampak dalam foto hasil rekayasa AI itu seperti ditulis oleh portal milik Pemda Mabar Infomabar.
AI, Etika ASN, dan Tanggung Jawab Informasi
Kasus ini memperlihatkan dua lapis persoalan. Pertama, penggunaan teknologi AI untuk memanipulasi gambar, bahkan dengan dalih candaan, dapat berdampak serius ketika konteksnya menyangkut pejabat publik. Di era disinformasi, garis antara guyonan dan misinformasi menjadi sangat tipis.
Kedua, inkonsistensi keterangan memperumit upaya pemulihan kepercayaan publik. Dalam birokrasi, bukan hanya substansi pelanggaran yang diuji, tetapi juga integritas dalam memberikan penjelasan.
Nedy telah menyampaikan permohonan maaf kepada Sekda, pimpinan OPD, rekan wartawan, dan masyarakat Manggarai Barat. Ia mengakui sebagai ASN tidak pantas mengunggah konten semacam itu, meski diniatkan sebagai candaan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyatakan telah menelusuri kasus ini dan memastikan foto yang beredar merupakan hasil rekayasa AI. Namun, pengakuan tentang keberadaan sopi di meja—meski diklaim tidak diminum—masih menyisakan ruang evaluasi internal mengenai disiplin dan etika ASN.
Di tengah cepatnya arus informasi digital, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa satu unggahan, sekalipun dimaksudkan sebagai lelucon, dapat menjelma krisis reputasi. Bagi ASN, ruang privat di media sosial kerap beririsan dengan tanggung jawab publik. Dan bagi pemerintah daerah, transparansi serta konsistensi penjelasan menjadi kunci meredam spekulasi.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo






