INFOLABUANBAJO.ID — Sejumlah massa yang tergabung dalam Lembaga Pengkaji dan Peneliti Demokrasi Manggarai (LPPDM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Kepolisian Resor Manggarai Barat dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo, Kamis, 8 Januari 2026. Mereka menyoroti penanganan tragedi tenggelamnya Kapal Motor (KM) Putri Sakinah yang menewaskan wisatawan asal Spanyol.
Ketua LPPDM Marsel Ahang mengatakan korban kapal tenggelam justru ditemukan oleh nelayan, bukan oleh tim Basarnas. Padahal, kata dia, negara mengalokasikan anggaran besar untuk lembaga pencarian dan pertolongan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang mendapati korban itu nelayan, bukan Basarnas. Negara keluarkan uang besar untuk Basarnas, tapi nelayan yang capek itu yang mendapatkan korban. Inilah potret negara kita yang sedang tidak baik-baik saja,” kata Marsel dalam orasinya.
Aksi yang diikuti sekitar 20 orang itu dipimpin langsung oleh Marsel Ahang. LPPDM menilai tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah mencerminkan lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran serta buruknya tata kelola perizinan kapal wisata di Labuan Bajo, destinasi pariwisata super prioritas.
Sebelumnya, satu jenazah korban warga negara Spanyol ditemukan nelayan pada Senin pagi, 29 Desember 2025, di perairan Pulau Serai, sekitar satu mil dari lokasi tenggelamnya kapal. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Komodo untuk proses identifikasi. Tangis keluarga korban pecah saat memastikan identitas jenazah tersebut.
Setelah 10 hari pencarian, jasad Martin Carreras Fernando, pelatih tim sepak bola putri Valencia CF di Spanyol, akhirnya ditemukan pada Minggu (4/1/2026) siang
Penemuan berikutnya terjadi pada Selasa, 6 Januari 2026. Dua nelayan Pulau Komodo, Saiful dan Hadi Kusuma, menemukan bangkai kamar kapal yang diduga bagian dari KM Putri Sakinah. Bangkai tersebut ditarik ke Pantai Pede. Saat dibuka, nelayan mencium bau menyengat dan menemukan satu jenazah di dalamnya. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada tim SAR gabungan.
Hingga kini, tim SAR masih melakukan pencarian terhadap satu korban lainnya, warga negara Spanyol yaitu anak dari Fernando Martin, pelatih tim putri Valencia FC.
Dalam pernyataan sikapnya, LPPDM mendesak Polres Manggarai Barat dan Polda Nusa Tenggara Timur segera menetapkan tersangka dalam kasus ini. Pihak yang didesak untuk dimintai pertanggungjawaban antara lain Kepala KSOP Labuan Bajo, pemilik kapal, agen perjalanan atau operator wisata, kapten kapal, serta anak buah kapal.
Selain itu, LPPDM meminta kepolisian menyelidiki Forum Komunikasi Keagenan Kapal Labuan Bajo (FOKAL) yang diduga ilegal. Mereka juga mendesak Kementerian Perhubungan mencopot dan memutasi seluruh staf KSOP Labuan Bajo yang diduga terlibat praktik mafia perizinan, pungutan liar dalam penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB), serta pengaturan jasa kepelabuhanan.
Meski demikian, Marsel menegaskan pihaknya tetap mendukung pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan pariwisata Labuan Bajo. “Yang kami lawan adalah kelalaian dan praktik kotor yang membahayakan nyawa manusia,” ujarnya.
Aksi sempat memanas ketika terjadi perdebatan antara Marsel Ahang dan perwakilan KSOP Labuan Bajo. Marsel mempertanyakan keberadaan forum keagenan kapal yang disebut-sebut dibentuk oleh KSOP.
“Ini sangat lalai. Berani atau tidak KSOP mencabut forum ini? Forum yang KSOP buat dengan Ahmad Efendi sebagai ketuanya,” kata Marsel, yang juga berprofesi sebagai pengacara.
Kasus tenggelamnya KM Putri Sakinah menjadi sorotan luas, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga internasional. Tragedi ini dinilai dapat mencoreng citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia apabila tidak ditangani secara transparan dan tuntas.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi






