Selain soal pasar, Mario juga menyoroti keunggulan komoditas jagung dari sisi teknis. Tanaman ini dinilai relatif mudah dibudidayakan dan memiliki siklus panen yang cepat. Dalam satu tahun, jagung dapat ditanam hingga tiga kali, memberikan peluang perputaran ekonomi yang lebih dinamis dibandingkan komoditas lain.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak akan tercapai tanpa komitmen bersama. Petani didorong untuk mulai mengoptimalkan lahan yang selama ini belum produktif. Lahan kosong, menurutnya, harus segera dialihfungsikan menjadi area pertanian jagung yang bernilai ekonomi.
“Kita punya lahan, kita punya tenaga. Tinggal bagaimana kita kelola secara serius dan terarah,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah awal membangun model pertanian berbasis komunitas di Manggarai Barat. Jika berhasil, pendekatan ini berpotensi direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.
Di tengah tantangan sektor pertanian yang kerap dihadapkan pada persoalan klasik—modal, teknologi, dan pasar—inisiatif seperti ini menawarkan harapan baru. Bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan rantai nilai yang lebih adil bagi petani.
Welak, yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan potensi lahan luas, kini berada di persimpangan: tetap bertahan dengan pola lama, atau bergerak menuju sistem pertanian modern yang terintegrasi.
Pilihan itu, setidaknya mulai diarahkan. Dan jagung, tampaknya, sedang dipersiapkan menjadi pintu masuknya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Reims Nahal
Halaman : 1 2







