Tradisi Unik Jumat Agung di Zaman Romawi: Iman, Penyaliban, dan Sejarah Tersembunyi

- Redaksi

Jumat, 18 April 2025 - 11:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

INFOLABUANBAJO.ID — Jumat Agung menjadi salah satu hari paling sakral dalam kalender umat Kristen. Hari ini memperingati pengorbanan Yesus Kristus yang disalibkan demi menebus dosa umat manusia. Namun, jika kita menoleh ke belakang—ke abad pertama Masehi, di masa kekuasaan Kekaisaran Romawi—peringatan ini tidak dilakukan secara terbuka seperti sekarang. Justru, ia lahir dalam ketakutan, keheningan, dan pengorbanan yang tersembunyi.

Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri tradisi unik dan atmosfer yang melingkupi Jumat Agung pada zaman Romawi: dari praktik penyaliban yang brutal, hingga bagaimana iman bertahan di balik bayang-bayang kekuasaan yang menindas.

1. Penyaliban: Hukuman Brutal Romawi yang Jadi Simbol Keselamatan

Di zaman Kekaisaran Romawi, penyaliban bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ia adalah hukuman umum, kejam, dan bertujuan untuk mempermalukan para tahanan secara publik. Biasanya dikenakan kepada budak, pemberontak, dan penjahat kelas berat.

Yesus dari Nazaret, yang saat itu dikenal sebagai guru rohani dan penyembuh dari wilayah Galilea, dituduh oleh otoritas Yahudi karena mengklaim sebagai Mesias. Tuduhan ini dibawa ke Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, yang akhirnya menjatuhkan hukuman mati melalui penyaliban—sebuah metode yang digunakan Romawi untuk menjaga stabilitas sosial dan menunjukkan dominasi politik.

Bagi Kekaisaran Romawi, itu adalah eksekusi biasa. Namun bagi para murid Yesus, itu adalah titik balik dari sejarah iman mereka.

Baca Juga:  Manusia Hobbit dari Flores: Misteri Makhluk Mini yang Mengguncang Dunia Ilmu Pengetahuan

2. Iman yang Bertahan dalam Sembunyi

Setelah peristiwa penyaliban, para pengikut Yesus tidak langsung memperingati hari kematian-Nya secara terbuka. Sebaliknya, selama berabad-abad, Jumat Agung diperingati secara diam-diam, khususnya karena kekristenan dianggap ilegal dan berbahaya oleh otoritas Romawi.

Mereka berkumpul di katakombe—lorong-lorong bawah tanah di pinggiran kota Roma—untuk berdoa, membaca kitab suci, dan mengenang penderitaan Kristus. Tak jarang, pertemuan ini diadakan dengan penuh kecemasan, sebab penggerebekan dan penganiayaan bisa terjadi kapan saja.

Kesunyian menjadi bentuk ibadah, dan setiap tetes air mata menjadi saksi iman yang tak tergoyahkan.

3. Puasa Keras sebagai Bentuk Solidaritas Rohani

Penulis : Tim Info Labuan Bajo

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Momen Presiden Soeharto Panen Raya di Borong, 1982: Ketika Manggarai Disebut “Daerah yang Diberkati”
Kabar Baik! Cek Nama Anda, Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Siap Dicairkan
Profil Uskup Carrie Schofield-Broadbent, Pemimpin Keuskupan Maryland
Ikan Cara dari Labuan Bajo — Cita Rasa Laut yang Tak Terlupakan
Jadwal Kapal Pelni dari Labuan Bajo ke Denpasar (Benoa) Bulan Oktober 2025
Hotel dan Resort Terbaik di Labuan Bajo untuk Liburan Mewah
Mengenal PPPK Paruh Waktu: Definisi, Gaji, Jam Kerja, dan Syarat Pendaftaran
Ciri-Ciri Dana Desa Dikorupsi Kepala Desa, Warga Perlu Waspada

Berita Terkait

Selasa, 11 November 2025 - 13:26 WITA

Momen Presiden Soeharto Panen Raya di Borong, 1982: Ketika Manggarai Disebut “Daerah yang Diberkati”

Minggu, 26 Oktober 2025 - 21:27 WITA

Kabar Baik! Cek Nama Anda, Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Siap Dicairkan

Jumat, 24 Oktober 2025 - 21:54 WITA

Profil Uskup Carrie Schofield-Broadbent, Pemimpin Keuskupan Maryland

Kamis, 16 Oktober 2025 - 15:01 WITA

Ikan Cara dari Labuan Bajo — Cita Rasa Laut yang Tak Terlupakan

Kamis, 2 Oktober 2025 - 17:25 WITA

Jadwal Kapal Pelni dari Labuan Bajo ke Denpasar (Benoa) Bulan Oktober 2025

Berita Terbaru