INFOLABUANBAJO.ID — Jumat Agung menjadi salah satu hari paling sakral dalam kalender umat Kristen. Hari ini memperingati pengorbanan Yesus Kristus yang disalibkan demi menebus dosa umat manusia. Namun, jika kita menoleh ke belakang—ke abad pertama Masehi, di masa kekuasaan Kekaisaran Romawi—peringatan ini tidak dilakukan secara terbuka seperti sekarang. Justru, ia lahir dalam ketakutan, keheningan, dan pengorbanan yang tersembunyi.
Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri tradisi unik dan atmosfer yang melingkupi Jumat Agung pada zaman Romawi: dari praktik penyaliban yang brutal, hingga bagaimana iman bertahan di balik bayang-bayang kekuasaan yang menindas.
1. Penyaliban: Hukuman Brutal Romawi yang Jadi Simbol Keselamatan
Di zaman Kekaisaran Romawi, penyaliban bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ia adalah hukuman umum, kejam, dan bertujuan untuk mempermalukan para tahanan secara publik. Biasanya dikenakan kepada budak, pemberontak, dan penjahat kelas berat.
Yesus dari Nazaret, yang saat itu dikenal sebagai guru rohani dan penyembuh dari wilayah Galilea, dituduh oleh otoritas Yahudi karena mengklaim sebagai Mesias. Tuduhan ini dibawa ke Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, yang akhirnya menjatuhkan hukuman mati melalui penyaliban—sebuah metode yang digunakan Romawi untuk menjaga stabilitas sosial dan menunjukkan dominasi politik.
Bagi Kekaisaran Romawi, itu adalah eksekusi biasa. Namun bagi para murid Yesus, itu adalah titik balik dari sejarah iman mereka.
2. Iman yang Bertahan dalam Sembunyi
Setelah peristiwa penyaliban, para pengikut Yesus tidak langsung memperingati hari kematian-Nya secara terbuka. Sebaliknya, selama berabad-abad, Jumat Agung diperingati secara diam-diam, khususnya karena kekristenan dianggap ilegal dan berbahaya oleh otoritas Romawi.
Mereka berkumpul di katakombe—lorong-lorong bawah tanah di pinggiran kota Roma—untuk berdoa, membaca kitab suci, dan mengenang penderitaan Kristus. Tak jarang, pertemuan ini diadakan dengan penuh kecemasan, sebab penggerebekan dan penganiayaan bisa terjadi kapan saja.
Kesunyian menjadi bentuk ibadah, dan setiap tetes air mata menjadi saksi iman yang tak tergoyahkan.
3. Puasa Keras sebagai Bentuk Solidaritas Rohani
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya






