INFOLABUANBAJO.ID – Kebijakan pembatasan kunjungan maksimal 1.000 wisatawan per hari di Taman Nasional Komodo menuai reaksi keras dari pelaku pariwisata. Dalam aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Pariwisata Mabar Bersatu (APMB), suara paling menyayat datang dari seorang perempuan pekerja wisata yang mengaku harus menunda rencana pernikahannya akibat kondisi ekonomi yang kian sulit.
Perempuan tersebut naik ke mimbar dan menyampaikan langsung aspirasinya di hadapan Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana kebijakan tersebut berdampak besar pada kehidupannya.
Ia mengaku sudah delapan tahun bekerja di sektor pariwisata di Labuan Bajo. Sejak SMA, ia melihat pariwisata sebagai harapan masa depan. Bahkan, dari sektor itu pula ia belajar bahasa Inggris dan mendapatkan pekerjaan tanpa harus merantau keluar daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun kini, harapan itu berubah menjadi kekhawatiran.
“Saya sangat-sangat kecewa. Hari ini saya benar-benar merasakan kelaparan,” ujarnya dengan suara bergetar di tengah kerumunan massa.
Tak hanya dirinya, sang suami yang juga bekerja di sektor pariwisata mengalami hal serupa. Minimnya kunjungan wisatawan membuat penghasilan mereka menurun drastis.
Kondisi itu berdampak langsung pada rencana pernikahan mereka yang dijadwalkan pada 2027. Ia mengaku, rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena tidak adanya kepastian ekonomi.
“Suami saya juga kerja di pariwisata. Tahun 2027 kami rencana menikah, tapi sekarang batal karena uang sudah tidak ada. Kalau tamu tidak ada, kami mau menikah bagaimana?” tuturnya.
Ia pun mempertanyakan kebijakan kuota tersebut yang dinilai semakin mempersempit ruang gerak pelaku wisata lokal.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







