“Setiap kecamatan otomatis akan memiliki dapur MBG. Kami hanya membantu distribusi lewat kader, sementara pelaksanaan teknisnya dilakukan oleh BGN,” katanya.
Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah pusat untuk memperbaiki gizi keluarga serta menurunkan angka stunting, khususnya dalam periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK).
Antisipasi Keracunan: Perhatikan Waktu dan Bahan Pangan
Dinas P2KB juga telah menyiapkan langkah antisipatif untuk mencegah risiko keracunan makanan. Salah satunya dengan memperhatikan waktu konsumsi dan jenis bahan pangan yang disiapkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jam konsumsi penerima berbeda-beda. Misalnya ada yang makan jam 9 pagi, maka makanan harus disiapkan lebih awal. Jangan disamakan dengan yang konsumsi jam 12 atau jam 1 siang,” jelas Rafael.
Selain itu, bahan pangan seperti sayur yang mudah basi juga menjadi perhatian penting.
“Kuncinya ada di kepala dapur. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan aman dan segar,” tegasnya.
Pemerintah Desa Diminta Terlibat
Rafael juga mengimbau pemerintah desa untuk berperan aktif dalam keberlangsungan program ini, terutama dalam penyediaan bahan baku lokal seperti sayur, telur, dan buah.
“Pemerintah desa perlu mengorganisir penyediaan bahan baku. Masyarakat juga perlu diberi informasi agar bisa membantu menyiapkan kebutuhan tersebut. Ini penting untuk keberlanjutan program,” ujarnya.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah nyata pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Dengan menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, menyusui, dan balita, program ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting sekaligus menciptakan generasi sehat dan berkualitas di Manggarai Barat. **
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







