“Dulu tempat ini sepi, tapi sekarang banyak orang datang tiap sore. Saya bisa jualan lebih banyak kedepannya,” ujar salah satu penjual jagung bakar dalam bincang-bincang dengan awak media ini.
Meski sebagian warga menyambut antusias perkembangan tersebut, ada pula yang berharap agar pembangunan Mawatu tetap memperhatikan aspek lingkungan dan akses publik. Beberapa pengunjung menilai bahwa kawasan tepi laut seperti itu harus tetap menyediakan ruang terbuka untuk masyarakat umum, bukan hanya untuk kepentingan komersial semata.
“Bagus kalau dikembangkan, tapi kalau bisa jangan semua ditutup. Kami juga butuh tempat untuk menikmati laut,” ungkap Ahmad warga Batu Cermin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga kini, proyek pengembangan Mawatu masih dalam tahap konstruksi bertahap. Namun antusiasme masyarakat yang datang setiap hari menjadi sinyal positif bahwa kawasan ini telah menarik perhatian publik, bahkan sebelum resmi beroperasi.
Dengan kehadiran Mawatu, Labuan Bajo diperkirakan akan semakin lengkap sebagai destinasi wisata premium. Tidak hanya menawarkan pesona alam seperti Pulau Padar, Komodo, dan Pink Beach, tetapi juga menghadirkan pengalaman urban modern yang bisa dinikmati wisatawan lokal maupun mancanegara.
Apabila sesuai rencana, Mawatu akan menjadi salah satu ikon baru kota Labuan Bajo, menggabungkan keindahan pesisir dengan gaya hidup modern — simbol kemajuan destinasi wisata super premium Indonesia Timur.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







