INFOLABUANBAJO.ID — Kebijakan pembatasan kuota kunjungan wisatawan sebanyak 1.000 orang di kawasan Pulau Padar Selatan, Taman Nasional Komodo, menuai penolakan dari masyarakat Manggarai Barat. Penolakan tersebut disampaikan dengan sejumlah alasan yang dinilai mendasar, baik dari sisi konservasi maupun dampak ekonomi.
Salah satu perwakilan masyarakat, Try Dedi, menyebut kebijakan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat, khususnya terkait alasan konservasi yang dijadikan landasan utama.
“Alasan penurunan populasi komodo di Pulau Padar akibat aktivitas wisatawan sangat tidak tepat. Sejak awal, Pulau Padar bukan habitat asli komodo. Komodo di sana merupakan hasil migrasi yang dilakukan Balai Taman Nasional Komodo, dengan jumlah yang sangat terbatas,” ujar Try Dedi kepada Info Labuan Bajo Senin 13 April 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan, dengan kondisi tersebut, klaim adanya penurunan populasi komodo di Pulau Padar tidak relevan untuk dijadikan dasar pembatasan kunjungan wisatawan.
Selain itu, masyarakat juga menilai alasan kerusakan ekosistem di Pulau Padar Selatan akibat aktivitas wisatawan tidak didukung fakta di lapangan. Menurut Try Dedi, jalur trekking di kawasan tersebut hanya satu dan telah digunakan sejak lama tanpa perubahan signifikan terhadap kondisi tanah maupun vegetasi.
“Struktur tanah dan kondisi rumput tidak mengalami perubahan. Saat musim kemarau tetap kering, dan saat musim hujan kembali hijau seperti biasa. Jadi tidak ada kerusakan ekosistem yang signifikan akibat wisatawan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan kepadatan pengunjung yang kerap terjadi di titik pandang (view point) dan area pertemuan (meeting point). Menurutnya, hal itu bukan disebabkan oleh jumlah wisatawan, melainkan lemahnya pengaturan waktu kunjungan.
“Penumpukan terjadi karena tidak ada pengaturan waktu yang baik. Seharusnya itu yang dibenahi, bukan malah membatasi jumlah pengunjung,” tambahnya.
Namun demikian, Try Dedi mengakui bahwa pembatasan kunjungan bisa diterapkan di wilayah yang memang menjadi habitat asli komodo, seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca, jika terbukti terjadi perubahan perilaku satwa akibat interaksi dengan wisatawan.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







