“Kami tidak memperhitungkan berapa nilainya, tapi kami kecewa dan sedih karena kuburan kakek dibongkar. Kenapa harus menggali kuburan orang mati? Kenapa tidak mencuri di rumah orang hidup?” ujar Omy penuh emosi.
Ia juga menambahkan bahwa keluarga besar menyerahkan kasus ini kepada pihak berwenang, namun tetap mempercayai kutukan leluhur akan menimpa para pelaku.
“HALON BA BEI MAU, MA MOLA NI ATEN NO NI FUAN, SUKU MOLA MIIT MOLA, TUSI MOLA KOHI MOLA,” ucapnya dalam bahasa Tetun Belu, yang berarti kutukan para leluhur akan datang bagi pelaku dan keluarganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi pencurian pusaka di makam ini membuat suasana di Desa Faturika berubah mencekam. Warga mulai waspada dan meminta aparat kepolisian segera mengusut kasus yang dianggap tidak manusiawi dan menodai martabat orang mati tersebut.
Salah satu anggota keluarga lainnya bahkan melontarkan sumpah kutukan keras terhadap para pelaku.
“Kami sumpah pelaku dengan berbagai cara. Lambat cepat mereka akan mati dalam keadaan tidak sehat. Tuhan dan leluhur akan menyambut mereka di neraka yang gelap,” ungkapnya penuh amarah.
Peristiwa ini kini menjadi perbincangan hangat di media sosial dan grup-grup warga Belu. Banyak yang mengecam tindakan tersebut sebagai tindakan paling keji dan tidak berperikemanusiaan, karena tidak hanya mencuri harta, tetapi juga mengganggu ketenangan arwah.
Hingga berita ini diterbitkan, aparat kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penyelidikan kasus ini. Warga berharap pelaku segera tertangkap agar kejadian serupa tidak terulang lagi di wilayah mereka. ***
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Reims Nahal
Halaman : 1 2






