INFOLABUANBAJO.ID — Kinerja Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Labuan Bajo kembali disorot. Warga Kampung Lembah, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, mengeluhkan belum tersambungnya aliran listrik PLN meski jaringan dan tiang listrik telah lama berdiri di kampung mereka.
Deretan tiang beton yang membentang di sepanjang jalan kampung justru menjadi simbol ironi. Infrastruktur sudah hadir, tetapi listrik tak pernah mengalir ke rumah warga. “Kami setiap hari melihat kabel listrik di atas kepala kami, tapi rumah kami gelap gulita. Rasanya seperti dipermainkan,” kata seorang warga Kampung Lembah, Senin, 5 Januari 2026.
Kekecewaan warga kian memuncak karena kampung-kampung lain di wilayah yang sama lebih dulu menikmati sambungan listrik. Padahal, Kampung Lembah tidak berada di wilayah terpencil ekstrem dan relatif mudah dijangkau. Kondisi itu memunculkan dugaan praktik tebang pilih dalam pelayanan listrik oleh ULP PLN Labuan Bajo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau alasan teknis, kenapa kampung lain bisa lebih dulu? Jarak kami tidak jauh, tiang listrik juga sudah ada. Jadi alasan PLN apa?” ujar warga lainnya.
Bertahun-tahun Menunggu
Menurut penuturan masyarakat, permohonan pemasangan listrik telah disampaikan berulang kali, baik secara lisan maupun melalui aparat desa. Namun, hingga kini tak ada kepastian jadwal maupun penjelasan resmi.
Ketidakpastian itu dinilai mencerminkan buruknya tata kelola pelayanan publik, mengingat listrik merupakan kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada pendidikan, ekonomi, dan kesehatan warga.
Tanpa listrik, anak-anak Kampung Lembah belajar dengan penerangan seadanya. Usaha kecil terpaksa dibatasi, sementara warga lain bergantung pada lampu minyak dan genset yang mahal. “PLN selalu bicara soal pemerataan listrik dan keadilan energi. Tapi kenyataannya kami dianaktirikan,” kata masyarakat setempat.
Keberadaan tiang dan kabel tanpa aliran listrik memunculkan pertanyaan publik: apakah pembangunan infrastruktur listrik sekadar mengejar proyek fisik tanpa memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat? “Kalau memang belum siap dialiri, kenapa tiangnya dipasang sejak lama? Jangan-jangan ini hanya formalitas laporan proyek,” sindir warga.
Bahkan, sebagian warga mulai bersikap apatis dengan menolak mengizinkan PLN memangkas ranting pohon milik mereka yang berada di dekat kabel listrik.
Janji PLN Siap Survei
Menanggapi keluhan tersebut, Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Labuan Bajo, Virtus Gita Anggara, mengatakan pihaknya mengejar target rasio elektrifikasi dan Rasio Desa Berlistrik (RDB). Ia menyebut PLN memprioritaskan desa yang sama sekali belum berlistrik sebelum bergeser ke dusun-dusun.
“Memang kami di PLN mengejar yang namanya rasio elektrifikasi. Di Manggarai Barat ini ada beberapa desa yang belum berlistrik. Kalau Kampung Lembah ini kan dusun. Jadi perencanaannya kami fokuskan dulu ke desa,” ujar Virtus, Jumat, 9 Januari 2026.
Virtus menjelaskan, seluruh perencanaan dilakukan bersama Unit Pelayanan Proyek Kelistrikan (UP2K) Flores di Ruteng dan sangat bergantung pada ketersediaan anggaran. Ia juga mengungkapkan adanya perubahan skema pendanaan dari PLN ke APBN yang bersifat tahunan.
Meski demikian, Virtus menegaskan PLN terbuka untuk menindaklanjuti usulan masyarakat dan menyatakan siap turun ke lapangan. “Kalau memang kami dapat suratnya, kami survei—entah dari kami atau dari teman-teman UP2K Flores—pasti kami langsung survei untuk memastikan. Kalau ternyata hanya butuh kabel hitam saja untuk nambah ke kampung itu, ya pasti lebih cepat,” kata dia.
Namun, pernyataan itu justru menimbulkan tanda tanya baru. Virtus mengaku belum menerima surat usulan resmi dari Kampung Lembah selama ia menjabat sejak Februari tahun lalu. “Kalau memang daerah itu sudah dilewati tiang-tiang besar tapi belum berlistrik, itu malah jadi pertanyaan. Selama saya di sini, memang belum ada surat dari dusun ini,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah desa Tanjung Boleng segera mengajukan usulan tertulis agar bisa diproses dalam pemetaan elektrifikasi tahun berjalan maupun tahun-tahun berikutnya hingga 2029.
Janji PLN untuk segera melakukan survei kini menjadi sorotan utama warga Kampung Lembah. Bagi mereka, kehadiran petugas survei akan menjadi bukti awal keseriusan PLN—atau justru sekadar janji lain yang kembali menggantung di bawah tiang-tiang listrik yang telah lama berdiri tanpa cahaya.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi






