INFOLABUANBAJO.ID — Perayaan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari 2026 tak hanya diisi seremoni dan pidato. Aliansi Jurnalis Manggarai Barat (AJ-Mabar) memilih cara berbeda: mengunjungi sebuah sekolah dasar di poros selatan Labuan Bajo yang kerap luput dari perhatian, SDI Macang Tanggar.
Sekolah itu berada sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Secara jarak, angka tersebut terdengar dekat. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Jalan menuju sekolah itu rusak parah, berbatu, dan berlumpur saat hujan turun. Kendaraan roda dua pun harus ekstra hati-hati melintasinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di musim penghujan, akses ke SDI Macang Tanggar berubah menjadi tantangan harian. Anak-anak terpaksa berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer menuju sekolah. Tak jarang mereka melepas alas kaki agar sepatu tak rusak oleh lumpur tebal. Seragam putih merah yang bersih dari rumah, setiba di sekolah, sering sudah ternoda tanah.
Namun kondisi itu tak menyurutkan semangat belajar mereka.
“Kami mau sekali menikmati makan bergizi gratis seperti anak-anak lain,” ujar Laras, siswi kelas V, dengan suara pelan namun tegas.
Kalimat sederhana itu menyiratkan kerinduan yang lebih besar: keinginan untuk diperlakukan setara.
Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan pemerintah pusat sebagai bagian dari agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto, sejumlah sekolah di wilayah Manggarai Barat mulai merasakan manfaatnya. Program itu digadang-gadang menjadi upaya strategis memperbaiki gizi anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Namun SDI Macang Tanggar belum termasuk dalam daftar penerima. Salah satu penyebabnya diduga karena sulitnya akses distribusi akibat kondisi infrastruktur jalan yang belum memadai.
Padahal sekolah ini bukan sekolah baru. Ia tercatat sebagai salah satu sekolah dasar tertua di poros selatan Labuan Bajo. Ironisnya, usia panjang itu tak sebanding dengan perhatian pembangunan yang diterima.
Para guru di sekolah tersebut pun menghadapi tantangan serupa. Mereka harus berjibaku dengan cuaca dan medan setiap hari. Ketika hujan deras mengguyur, perjalanan menuju sekolah menjadi lebih berat. Kendati demikian, proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Minimnya infrastruktur bukan hanya soal kenyamanan, melainkan menyangkut hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan layanan pendukungnya. Tanpa jalan yang memadai, distribusi program seperti MBG tersendat. Akibatnya, anak-anak di sekolah terpencil yang justru membutuhkan asupan gizi tambahan, kembali tertinggal.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang pemerataan. Bagaimana mungkin sekolah yang hanya berjarak 10 kilometer dari pusat kota justru mengalami keterisolasian Mengapa akses dasar belum juga dibenahi, padahal Labuan Bajo telah menyandang status destinasi super prioritas nasional?
Di satu sisi, geliat pembangunan sektor pariwisata terus digenjot. Hotel-hotel bertaraf internasional berdiri megah. Jalan menuju kawasan wisata diperhalus. Namun di sisi lain, anak-anak di SDI Macang Tanggar masih menapaki jalan tanah untuk menjemput pendidikan.
Perayaan Hari Pers Nasional kali ini menjadi momentum refleksi bagi AJ-Mabar. Kehadiran mereka di sekolah tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan upaya mengetuk kesadaran publik dan pemerintah daerah.
Masih adakah harapan bagi siswa-siswi SDI Macang Tanggara untuk menikmati program MBG seperti sekolah lain? Masih adakah keadilan infrastruktur bagi mereka yang tinggal di pinggir sorotan pembangunan?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini menggantung di atas jalan berbatu yang saban hari dilalui Laras dan teman-temannya. Mereka mungkin tak memahami istilah pemerataan pembangunan atau prioritas anggaran. Yang mereka tahu hanya satu: mereka ingin belajar dengan perut kenyang, seperti anak-anak lain.
Di ujung jalan yang rusak itu, harapan tetap menyala. Namun harapan, pada akhirnya, membutuhkan keputusan dan keberpihakan.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi






