Kolom komentar di grup itu pun ramai. Akun Momi Mo membandingkan respons kepala daerah di provinsi lain. “Kalau di Jabar lihat postingan seperti ini pasti gubernur turun langsung tidak pakai lama,” tulisnya, merujuk pada gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat. Ia menyindir lambannya respons di daerah sendiri.
Komentar lain datang dari akun Kornelis Ka u yang menyinggung kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan daerah. Ia menyebut wisatawan yang masuk ke Taman Nasional Komodo dikenakan tiket masuk hingga ratusan ribu rupiah. Menurut dia, sebagian pendapatan tersebut semestinya dapat dialokasikan lebih besar untuk kesejahteraan warga lokal, termasuk pembangunan infrastruktur desa.
Sementara itu, akun lain mempertanyakan komitmen pemerintah daerah terhadap wilayah yang masih tertinggal. “Padahal daerah premium itu kan,” tulis seorang warganet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat terkait kondisi jembatan di Desa Romang maupun rencana penanganannya. Foto yang beredar belum terverifikasi waktu dan detail lokasi persisnya, meski pada bagian gambar tercantum penanda waktu 23 Februari 2026.
Peristiwa ini kembali mengangkat persoalan klasik pembangunan di daerah kepulauan dan pedalaman Nusa Tenggara Timur: akses pendidikan yang aman dan layak. Bagi anak-anak di Desa Romang, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas harian, melainkan juga soal keberanian meniti risiko. Di tengah narasi besar pariwisata premium, jembatan kayu itu menjadi simbol jarak antara janji pembangunan dan realitas di lapangan.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2






