Jatuh Cinta di Natas Labar Motang Rua Kota Ruteng

- Redaksi

Selasa, 15 April 2025 - 18:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatuh Cinta di Natas Labar Motang Rua Kota Ruteng. (Gambar Ilustrasi)

Jatuh Cinta di Natas Labar Motang Rua Kota Ruteng. (Gambar Ilustrasi)

“Lelah apa?” tanya Jeri sambil menatap jalanan gelap di depan mereka.

“Lelah merasa harus siap untuk sesuatu yang belum bisa kupahami… semua orang tanya kapan kita menikah, kapan kita resmi… aku bahkan dituduh mempermainkanmu,” katanya pelan.

Jeri diam sebentar. Lalu, dengan suara pelan tapi mantap, ia berkata, “Kalau begitu… ayo kita pergi.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ince menoleh. “Ke mana?”

“Labuan Bajo. Sekarang.”

Ince terkejut. “Kamu serius?”

Jeri menatapnya dalam-dalam. “Kalau Ruteng terlalu penuh tekanan… ayo kita ambil jeda. Kita cari udara baru. Cuma kamu dan aku. Nggak ada tekanan, nggak ada desakan. Hanya kita dan cinta yang kita rawat.”

Dan malam itu, tanpa banyak kata, mereka berdua naik ke atas motor, membawa satu ransel dan sepasang hati yang masih belajar memahami arah. Mereka menyusuri jalan berkelok dari Ruteng menuju barat, melewati Cancar, Lembor, hingga akhirnya—menjelang subuh—tiba di Labuan Bajo.

Labuan Bajo menyambut mereka dengan mentari keemasan yang terbit dari balik lautan. Debur ombak lembut, bau garam, dan senyum ramah para nelayan seperti menjadi doa bagi dua insan yang sedang melarikan diri—bukan dari cinta, tapi dari ketakutan.

Mereka tinggal di salah satu kos kecil di seputaran pasar Wae Kesambi. Siang hari naik kapal keliling pulau, malam duduk di dermaga melihat lampu kapal berkelip di kejauhan.

Tak ada rencana besar. Tak ada percakapan tentang pernikahan. Hanya mereka, tertawa, berdebat soal ikan siapa yang lebih besar, saling diam sambil menatap laut, dan berbagi cerita masa kecil di atas pasir putih Pantai Pede.

Hingga pada suatu malam, di bawah bintang-bintang yang begitu dekat rasanya bisa diraih tangan, Ince menatap Jeri dan berkata,

“Kamu tahu kenapa aku nggak siap waktu kamu melamar?”

“Kenapa?” tanya Jeri, masih menatap langit.

“Karena aku belum tahu bagaimana rasanya mencintai tanpa takut kehilangan. Tapi di sini… sekarang… aku nggak takut lagi.”

Jeri menoleh, menatap gadis yang kini wajahnya tersinari cahaya bulan.

“Kalau aku melamar lagi sekarang, jawabannya masih sama?” bisik Jeri.

Ince tersenyum.

“Kali ini… jawabanku: iya.”

Dan di bawah langit Labuan Bajo, bukan cincin yang jadi saksi janji mereka, tapi laut luas dan bintang-bintang. Karena cinta yang sejati, kadang hanya butuh keberanian untuk pergi—agar bisa benar-benar kembali.

Tiga minggu sejak mereka kabur ke Labuan Bajo, udara pagi Ruteng terasa berbeda. Tidak lagi penuh tekanan—tapi seperti pelukan. Kabut Natas Labar yang dulu menjadi saksi cinta dan luka mereka, kini menyambut lagi dua hati yang sudah sembuh.

Jeri dan Ince kembali.

Mereka tidak kembali sebagai dua orang yang bingung. Tapi sebagai dua manusia yang tahu arah, tahu rasa, dan tahu bahwa cinta sejati memang butuh waktu—dan kadang, jarak.

Lusi menyambut mereka di terminal Mena dengan pelukan erat. “Akhirnya kalian kembali,” katanya sambil tertawa, walau ada air mata tipis di sudut matanya.

Kabar mereka sempat menghilang membuat heboh keluarga dan teman-teman. Tapi saat mereka kembali, tak banyak penjelasan yang diberikan. Hanya senyum dan tatapan yang menjelaskan segalanya—bahwa mereka baik-baik saja, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Baca Juga:  Keuskupan Labuan Bajo Ajukan Izin Doa Rosario di Waterfront City, Terkait Tragedi Tenggelamnya Empat Warga Spanyol

Jeri kembali membuka kelas fotografi, dan Ince memulai proyek kecil membuka kedai kopi. Ruteng mungkin kota kecil, tapi cinta mereka kini punya ruang yang besar untuk tumbuh.

Suatu pagi, Jeri mengajak Ince naik ke Natas Labar—lagi.

Kali ini tak ada lilin. Tak ada cincin. Hanya dua cangkir kopi dan tikar kecil di bawah pohon.

“Kamu tahu,” kata Jeri sambil menyeruput kopi, “aku sadar sekarang… bahwa bukan tempat ini yang membuat aku jatuh cinta.”

Ince menoleh, menatap Jeri dengan mata berbinar.

“Lalu apa?”

“Kamu. Kamu yang membuat tempat ini berarti.”

Ince tertawa pelan, lalu menyandarkan kepala di bahu Jeri.

“Aku senang kita pulang,” katanya.

“Karena cinta sejati,” sambung Jeri, “nggak butuh tempat baru. Ia hanya butuh dua hati yang bersedia bertumbuh bersama, walau berkali-kali jatuh.”

Mereka duduk lama di sana, menyaksikan kabut pagi perlahan hilang, digantikan sinar matahari yang hangat.

Cinta mereka—seperti Natas Labar—selalu diselimuti kabut. Tapi ketika cahaya datang, mereka tahu… bahwa rumah bukan tempat. Rumah adalah seseorang yang selalu bisa kamu temui, setelah semua badai kamu lewati.

Hari itu, langit Kota Ruteng cerah seperti ikut bahagia. Natas Labar tidak lagi berselimut kabut, seolah ingin memberi restu yang terang pada dua hati yang pernah goyah namun memilih saling menggenggam lagi.

Jeri berdiri di bawah pohon pinus tempat mereka pertama kali bertemu, mengenakan kemeja putih gading dengan senyum tak lepas dari wajah. Di hadapannya, sebuah altar sederhana dihias bunga-bunga liar khas Manggarai—warna ungu, putih, dan kuning berbaur dalam harmoni alami.

Lusi—yang kini jadi bridesmaid sekaligus MC dadakan—berdiri dengan mata berkaca. “Semua orang pernah jatuh,” katanya dalam sambutan, “tapi nggak semua orang berani bangkit, saling memaafkan, dan memilih untuk mencintai lagi. Ince dan Jeri… kalian bukti bahwa cinta nggak harus sempurna untuk jadi nyata.”

Lalu musik petik gitar mengalun pelan. Semua mata menoleh ke arah jalan setapak berumput.

Ince berjalan perlahan, mengenakan gaun putih sederhana, rambut digelung rapi dengan hiasan bunga kecil. Tidak glamor, tidak berlebihan. Tapi justru itulah yang membuat semua yang hadir menahan napas: ia begitu anggun, begitu damai.

Matanya bertemu dengan Jeri. Dan seketika, semua masa lalu mereka mengalir seperti potongan film yang hanya mereka berdua yang tahu: tawa pertama di Natas Labar, luka akibat perselingkuhan, pelarian ke Labuan Bajo, lamaran yang ditolak… dan akhirnya, hari ini—janji untuk bersama selamanya.

Pastor tua yang memimpin upacara tersenyum hangat. “Jeri… apakah kamu bersedia menerima Ince sebagai istrimu, mencintainya dalam suka dan duka, sehat dan sakit, sampai maut memisahkan?”

Jeri menatap Ince, matanya berkaca.

“Dengan seluruh hatiku. Iya.”

“Ince, apakah kamu bersedia menerima Jeri sebagai suamimu, mencintainya, mempercayainya, dan berjalan bersamanya sampai akhir hidupmu?”

Ince menarik napas panjang. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

“Aku bersedia. Aku siap mencintai Jeri dengan utuh—tanpa takut lagi.”

Dan saat cincin melingkar di jari mereka, tepuk tangan dan air mata pecah di antara para tamu.

Baca Juga:  Kompiang Theresa: Sebuah Kenangan Hangat dari Labuan Bajo

Jeri dan Ince tak lagi sekadar sepasang kekasih. Mereka adalah dua hati yang memilih untuk tetap percaya—bahwa cinta bisa diperjuangkan, dimaafkan, dan akhirnya… dimenangkan.

Rumah kecil Jeri dan Ince di pinggiran Ruteng selalu penuh tawa. Kedai kopi yang dikelola Ince bersama Lusi kini ramai tiap sore, dan kelas fotografi Jeri terus berkembang, menginspirasi anak-anak muda mencintai keindahan Manggarai.

Namun tak ada kebahagiaan yang melebihi hari ketika Ince menatap dua garis merah di test pack dengan tangan gemetar.

Ia terdiam lama di kamar mandi, memeluk test pack itu seperti benda paling rapuh tapi paling berarti.

Ketika Jeri pulang, lelah setelah motret upacara adat, Ince menyodorkan benda kecil itu dengan mata berkaca.

Jeri melihatnya. Butuh beberapa detik sebelum ia sadar apa maksudnya.

“Ini… serius?” bisiknya.

Ince mengangguk sambil menahan tangis bahagia.

Dan malam itu mereka duduk di teras rumah, hanya menatap langit dan saling menggenggam tangan, membayangkan masa depan yang perlahan mendekat dalam bentuk seorang bayi mungil.

Sembilan bulan penuh cemas, bahagia, lelah, dan doa akhirnya terbayar.

Hari itu, suara tangisan bayi memecah ruang bersalin di RSUD Ben Mboi Ruteng. Ince menangis pelan, menggenggam tangan Jeri yang gemetar.

“Itu… anak kita,” katanya dengan suara parau.

Seorang bayi perempuan mungil dengan pipi merah dan rambut hitam pekat digendong perawat ke pelukan Ince.

Mereka menamainya Lara—singkatan dari Labar dan Rasa, dua hal yang jadi akar cinta mereka.

Lara tumbuh dikelilingi tawa, cerita, dan lagu-lagu tidur yang dinyanyikan Jeri sambil memainkan gitar kecil. Ia belajar berjalan di halaman rumah yang penuh bunga liar, dan setiap ulang tahunnya, keluarga kecil itu selalu naik ke Natas Labar—tempat semua bermula.

Mereka memilih menetap di Ruteng. Jeri kini menjadi dosen tamu di universitas kecil di kota itu, membimbing mahasiswa dengan semangat yang sama seperti dulu ia menulis jurnal-jurnalnya. Ince, di sisi lain, mendirikan komunitas konservasi kecil, bekerja sama dengan warga lokal dan anak-anak muda untuk menjaga hutan dan burung endemik yang dulu mereka teliti.

Lusi sering datang berkunjung, kadang membawa oleh-oleh, kadang cuma datang untuk menginap dan melepas rindu. Ia tetap sahabat sejati, pengingat bahwa cinta bukan hanya soal dua insan, tapi juga soal orang-orang yang tetap tinggal saat segalanya runtuh.

Suatu sore, Jeri dan Ince duduk di teras rumah kayu mereka, memandangi matahari yang perlahan turun di balik bukit. Ince menyandarkan kepalanya di bahu Jeri.

“Lucu, ya,” gumamnya. “Dulu kita pikir semua ini sudah berakhir.”

Jeri tersenyum, menggenggam tangannya erat. “Ternyata bukan akhir. Cuma belokan tajam.”

Kabut mulai turun lagi. Tapi kali ini mereka tidak takut tersesat. Karena mereka tahu—selama mereka saling menggenggam tangan, tak ada jalan pulang yang terlalu asing.

Dan di Natas Labar, cinta itu terus tumbuh. Tak lagi tersembunyi di balik bayangan, tapi hidup, berakar, dan berbunga—dalam segala musimnya.

Berita Terkait

Sosok Anggur Putra Sutar, S.H.: Putra Labuan Bajo dengan Visi Nasional dan Bukti Nyata
Yesus Wafat di Depan Alfamart, Jalan Salib Tematis Jadi Sorotan Publik
Kenapa Disebut Tri Hari Suci Tapi Dirayakan 4 Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya
Kenapa Dolar AS Selalu Dipakai di Seluruh Dunia? Ini 6 Alasan Utamanya
Ini Alasan Patung dan Salib di Gereja Ditutup Kain Ungu Saat Prapaskah, Ternyata Penuh Makna Mendalam
Perayaan Minggu Palma: Ribuan Umat Katolik Kenang Masuknya Yesus ke Yerusalem
Tak Hanya Komodo! Gereja Katolik di Labuan Bajo Ini Jadi Tempat Cari Ketenangan
5 Peluang Usaha Modal Kecil yang Menjanjikan untuk Anak Muda di Labuan Bajo

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 15:15 WITA

Sosok Anggur Putra Sutar, S.H.: Putra Labuan Bajo dengan Visi Nasional dan Bukti Nyata

Minggu, 5 April 2026 - 06:08 WITA

Yesus Wafat di Depan Alfamart, Jalan Salib Tematis Jadi Sorotan Publik

Sabtu, 4 April 2026 - 11:52 WITA

Kenapa Disebut Tri Hari Suci Tapi Dirayakan 4 Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya

Sabtu, 4 April 2026 - 03:53 WITA

Kenapa Dolar AS Selalu Dipakai di Seluruh Dunia? Ini 6 Alasan Utamanya

Jumat, 3 April 2026 - 10:00 WITA

Ini Alasan Patung dan Salib di Gereja Ditutup Kain Ungu Saat Prapaskah, Ternyata Penuh Makna Mendalam

Berita Terbaru

Pada Senin (14/4/2026), Weng bertemu dengan Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, di Gedung Pusat TMI.

Pemerintah

Aksi Nyata Wabup Manggarai Barat Jemput Program Pertanian ke Pusat

Kamis, 16 Apr 2026 - 13:02 WITA