INFOLABUANBAJO.ID – Aroma sangrai kopi Manggarai kelak tak lagi sendirian. Ia akan berpadu dengan gurih kentang goreng yang baru diangkat dari wajan, meruap di antara riuh rendah percakapan warga Ruteng di malam hari. Pemandangan itu menjadi denyut baru di Natas Labar, alun-alun yang telah lama menjadi jantung interaksi sosial di ibu kota Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Di salah satu sudut ruang publik itulah, sebuah gerai mungil bersiap menancapkan kiprahnya. Namanya Kedai Momica. Sejak resmi dibuka pada 4 April lalu, kedai ini perlahan menjadi magnet baru.
Di balik mesin kopi dan wajan panasnya, ada sosok yang tak biasa: Maria Nova Supani. Saban hari, perempuan yang akrab disapa Icha ini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Manggarai. Baginya, merintis usaha kuliner bukan sekadar soal meraup laba. Ini adalah panggilan untuk ikut menghidupkan ruang publik yang ia cintai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Natas Labar sekarang adalah ikon, pusat segalanya,” kata Icha kepada infolabuanbajo.id, Jumat 20 Juni 2025. Lapangan yang dulu lengang itu, menurutnya, telah bertransformasi menjadi panggung sosial tempat warga saling sapa dan berbagi cerita. “Sangat strategis.”
Pilihan lokasi itu memang buah dari pengamatan jeli. Icha melihat denyut keramaian Natas Labar yang tak pernah putus, terutama saat senja berganti malam. Ia membayangkan Kedai Momica menjadi titik henti—sebuah tempat singgah yang nyaman bagi keluarga, anak muda, maupun para pegawai yang ingin melepas penat sejenak.
Penulis : Ofantri Nero
Editor : Fons Abun
Halaman : 1 2 Selanjutnya







