Senja mulai merona di ufuk Labuan Bajo, melukis langit dengan sapuan warna jingga dan lembayung. Di tengah hiruk pikuk kota yang mulai menyalakan lampunya, sebuah kedai kopi bernama Kopi Mane berdiri kokoh dengan arsitektur modern berpadu sentuhan kayu dan dinding tembok yang hangat. Dari luar, aroma kopi asli Manggarai yang pekat sudah menguar, menjadi undangan tak tertulis bagi siapa pun yang melintas.
Di dalam, di lantai pertama, suara mesin espresso yang mendesis berpadu dengan alunan musik yang menenangkan. Namun, bukan di sana tujuan Mawar. Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga besi menuju lantai dua, tempat sebuah janji temu menantinya.
Lantai dua Kopi Mane adalah sebuah surga kecil. Tempat ini terbuka langsung ke arah pelabuhan, menyuguhkan pemandangan yang tak ternilai. Di sanalah ia, panorama yang tak pernah gagal membuat Mawar jatuh cinta lagi dan lagi pada kota ini. Lautan biru membentang tenang, memantulkan sisa-sisa cahaya keemasan matahari. Di atasnya, puluhan kapal pinisi dengan tiang-tiang layarnya yang megah berbaris anggun, terparkir seperti raksasa kayu yang sedang beristirahat setelah seharian mengarungi keindahan Taman Nasional Komodo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mawar memilih meja di sudut, posisi terbaik untuk menyerap semua keindahan itu. Ia memesan segelas kopi, membiarkan embun di gelasnya menetes selaras dengan debaran hatinya yang tak sabar. Matanya tak lepas dari pemandangan di luar, namun pikirannya tertuju pada satu orang.
“Menunggu lama?”
Suara bariton yang begitu ia kenal itu menyentak lamunannya. Mawar menoleh, dan senyumnya merekah seketika. Di sana, Elang berdiri dengan senyum lelah namun tulus. Rambutnya sedikit acak-acakan oleh angin laut, kulitnya lebih gelap dari terakhir kali mereka bertemu, sebuah tanda ia baru saja kembali dari petualangannya di lautan.
“Tidak selama aku merindukanmu,” jawab Mawar, matanya tak berkedip menatap wajah yang dirindukannya selama dua minggu terakhir.
Elang menarik kursi di hadapan Mawar, meletakkan ransel kecilnya di samping. Ia adalah seorang pemandu wisata sekaligus fotografer lepas. Laut dan kapal pinisi adalah kantornya, dan hari ini, ia akhirnya kembali “pulang” ke pelukan Mawar.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Mawar sambil menggeser sedikit gelasnya, memberi ruang.
Penulis : Fons Abun
Halaman : 1 2 Selanjutnya







