“Luar biasa, seperti biasa. Tapi secapek apa pun di laut, rasanya selalu hilang begitu melihat dermaga dan tahu kamu ada di sini,” jawab Elang, matanya kini ikut menyapu pemandangan di hadapan mereka. Ia menunjuk salah satu kapal pinisi yang paling besar. “Lihat yang itu? Dua minggu lalu, aku berlayar dengannya ke Pulau Padar. Kau pasti suka pemandangannya saat fajar.”
Mereka terdiam sejenak, larut dalam pemandangan yang sama namun dengan perasaan yang berbeda. Bagi Elang, itu adalah pekerjaan dan petualangan. Bagi Mawar, itu adalah dunia yang sering kali membawanya jauh dari Elang.
Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Elang, Kopi Susu Gula Aren khas Bajo yang hangat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Aku selalu suka tempat ini,” ujar Mawar memecah keheningan. “Di bawah kita bisa merasakan sibuknya kota, tapi di lantai dua ini, rasanya seperti dunia milik kita saja. Hanya kita, laut, dan kapal-kapal bisu itu.”
Elang meraih tangan Mawar di atas meja, jemarinya menggenggam erat. “Dan di antara semua keindahan Bajo, memandangnya bersamamu adalah yang terbaik, Mawar.”
Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya, digantikan oleh kerlip lampu dari kapal-kapal dan daratan. Langit berubah menjadi biru kelam bertabur bintang. Di Kopi Mane, di lantai dua yang menghadap langsung ke jantung kehidupan Labuan Bajo, dua hati yang terpisah oleh lautan akhirnya kembali menyatu.
Mereka tidak banyak bicara lagi. Genggaman tangan, tatapan mata, dan senyum yang sesekali terukir sudah cukup menjadi bahasa. Secangkir kopi menjadi saksi bisu, sementara di kejauhan, kapal-kapal pinisi berdiri megah, seolah ikut menjaga pertemuan mereka yang hangat. Di Kopi Mane, cerita mereka kembali dirajut, sehangat kopi dan seindah senja Labuan Bajo.
Catatan : Nama dalam cerita diatas bukan nama sebenarnya.
Penulis : Fons Abun
Halaman : 1 2







