Langit Labuan Bajo adalah kanvas Tuhan yang tak pernah gagal memukau. Sapuan warna jingga, ungu, dan merah muda saat senja adalah pemandangan sehari-hari bagi Banyu, pemuda asli Flores yang kulitnya legam terbakar matahari dan tangannya kapalan karena menarik jala dan mengemudikan perahu. Ayahnya seorang nelayan tua, dan Banyu adalah ahli waris lautan. Baginya, laut adalah ibu, sahabat, sekaligus sumber kehidupan. Dunianya sederhana: aroma asin air laut, deru mesin perahu kayu, dan riak ombak yang memecah di bibir pantai.
Suatu hari, kesederhanaan dunianya terusik oleh kedatangan sebuah kapal pesiar mewah yang berlabuh tak jauh dari desanya. Dari kapal itu, turunlah sebuah keluarga yang auranya begitu berbeda. Mereka adalah keluarga Harmens, konglomerat dari Jakarta. Dan di antara mereka, ada sesosok gadis yang seolah membawa cahaya metropolitan ke pesisir yang tenang itu. Namanya Larasati, atau Laras.
Laras adalah potret kesempurnaan. Cantik, berpendidikan tinggi di luar negeri, dan terbiasa dengan kemewahan. Namun di balik gaun musim panas dan kacamata hitam bermereknya, matanya menyimpan kejenuhan. Ia bosan dengan pesta, gedung pencakar langit, dan percakapan dangkal tentang saham dan bisnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keluarga Harmens menyewa perahu lokal terbaik untuk menjelajahi pulau-pulau eksotis. Dan perahu itu adalah milik ayah Banyu, dengan Banyu sebagai nakhoda sekaligus pemandunya.
Pertemuan pertama mereka terjadi di atas dek perahu kayu yang sederhana. Laras terpana, bukan pada kemewahan yang tidak ada, tetapi pada cara Banyu berbicara tentang laut. Ia tidak sekadar menunjuk arah ke Pulau Padar atau Pulau Komodo. Ia bercerita tentang arus yang punya nyawa, tentang rasi bintang yang menjadi kompas leluhurnya, dan tentang filosofi seekor ikan yang berjuang melawan arus. Matanya berbinar tulus, sebuah binar yang tak pernah Laras lihat di mata para pria perlente di Jakarta.
“Di kota, orang melihat jam untuk tahu waktu. Di sini, kami melihat matahari dan pasang surut air laut,” kata Banyu suatu kali, sambil menunjuk cakrawala.
Kalimat sederhana itu menampar Laras. Selama liburannya, ia lebih banyak menghabiskan waktu berbicara dengan Banyu. Sementara ayah dan ibunya menikmati koktail di resor bintang lima, Laras memilih duduk di bibir pantai bersama Banyu, menyantap ikan bakar hasil tangkapan mereka sendiri, dengan beralaskan daun pisang. Ia belajar cara mengikat simpul tali perahu, ia tertawa lepas saat percikan air laut mengenai wajahnya, dan ia merasakan kedamaian yang tak pernah bisa dibeli dengan uang ayahnya.
Banyu pun merasakan hal yang sama. Laras bukan gadis kota manja yang ia bayangkan. Laras punya rasa ingin tahu yang besar, hati yang hangat, dan tawa yang renyahnya seperti suara gemericik air di goa tersembunyi. Untuk pertama kalinya, Banyu merasa laut yang luas itu terasa sempit jika tidak ada Laras di sisinya.
Cinta bersemi di antara debur ombak dan keagungan Pulau Padar saat matahari terbit. Sebelum Laras pulang, di sebuah dermaga kayu yang sepi, mereka saling berjanji untuk menjaga hati.
Namun, badai datang lebih cepat dari yang mereka duga.
Di Jakarta, Laras mencoba menceritakan tentang Banyu kepada ayahnya. Respon Pak Harmens dingin dan menusuk. “Laras, sadarlah! Kamu jatuh cinta dengan seorang anak nelayan? Apa masa depanmu bersamanya? Dia bisa memberimu apa? Ikan? Jangan membuat Ayah malu.”
Halaman : 1 2 Selanjutnya







