Wagal adalah upacara terakhir dari seluruh rangkaian adat Manggarai. Ia bukan hanya mengesahkan pernikahan, tapi juga menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan sosial dan spiritual. Dalam Wagal, cinta bukan sekadar milik dua insan, tapi milik dua komunitas.
Tokoh-Tokoh Hadir, Budaya Bersinar
Tidak heran jika momen ini menarik perhatian tokoh-tokoh penting dari Manggarai Raya. Para bupati, senator, tokoh adat, hingga kerabat dekat dari keluarga Benny K. Harman datang menyaksikan langsung peristiwa budaya ini. Bagi mereka, ini bukan hanya pesta keluarga—ini adalah perayaan identitas, pengingat bahwa adat dan budaya adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup.
Dalam momen ini, terlihat jelas bahwa cinta dan kekuasaan bisa berjalan dalam kesederhanaan yang agung. Tidak ada panggung mewah, tidak ada pesta gemerlap. Hanya rumah-rumah kayu, padang rumput yang hijau, suara gong yang menggema, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa leluhur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Budaya yang Hidup, Cinta yang Berakar
Apa yang terjadi di Kampung Lukup bukan sekadar upacara pernikahan. Ia adalah pernyataan tegas bahwa budaya Manggarai masih hidup. Bahwa adat bukan beban masa lalu, tapi perhiasan masa kini yang memperkaya kehidupan.
“Adat itu bukan sekadar simbol. Ia adalah nafas. Dan jika kita menjaganya, kita menjaga siapa diri kita,” ujar seorang sesepuh kampung saat memberi restu pada kedua mempelai.
Dan di tengah semua itu, pasangan dr. Stevi Harman dan Mario Pranda menjadi pengingat bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya—dari Jakarta hingga Lukup, dari altar gereja hingga halaman rumah adat. Cinta mereka telah dirayakan, bukan hanya oleh manusia, tetapi juga oleh bumi Manggarai dan para leluhurnya.
Rumah di Hati Leluhur
Menjelang senja, setelah semua prosesi selesai, gong terakhir dipukul, dan tamu-tamu berpamitan, Kampung Lukup kembali sunyi. Namun di tengah kesunyian itu, satu hal tetap terasa: cinta telah menetap di sana. Di rumah gendang yang menjadi saksi, di tarian Caci yang menggema, dan di hati setiap warga yang ikut bersyukur.
Semoga rumah tangga Mario Pranda dan dr. Stevi Harman menjadi seperti mbaru gendang—kokoh berdiri, hangat memeluk, dan tetap teguh walau badai datang menerpa.
Dan semoga adat Manggarai terus hidup, selama masih ada cinta yang dirayakan dengan hormat dan doa.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







