INFOLABUANBAJO.ID — Di tengah gemerlap Kota Labuan Bajo, Manggarai Barat yang menjadi primadona wisata dunia, ada sebuah kampung yang hingga kini terjebak dalam kegelapan. Kampung Lembah, yang terletak di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, hanya berjarak 30 menit dari pusat kota Super Premium itu namun nasibnya jauh tertinggal. Meski telah dilewati kabel listrik, rumah-rumah warga di kampung ini tetap gelap gulita. Sebuah ironi yang memilukan di tengah kemajuan yang dirasakan oleh kampung-kampung tetangga.
Kabel listrik yang terbentang di sepanjang jalan hanya menjadi hiasan semata, tanpa memberi manfaat nyata bagi warga Lembah. Meski berada di dekat jaringan listrik PLN, warga kampung ini tak bisa menikmati aliran listrik yang sudah lebih dulu dirasakan oleh desa-desa sekitarnya. Mereka hanya bisa melotot, memandang cahaya listrik yang terang benderang di kampung tetangga.
Syarif, salah satu warga Kampung Lembah, mengungkapkan perasaan frustrasinya. Dia menceritakan bahwa warga sudah beberapa kali memasukkan surat permohonan kepada PLN. Bahkan, bersama kepala desa, mereka mendatangi kantor PLN di Labuan Bajo untuk menyuarakan kebutuhan mereka akan penerangan. Namun, jawaban yang mereka dapatkan selalu tak kunjung memadai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada beberapa kali kami memasukkan surat permohonan kepada PLN. Kami bahkan sudah datang langsung ke kantor PLN bersama rombongan dan kepala desa. Manager PLN saat itu bilang bahwa mereka sedang memikirkan aliran listrik untuk Kampung Lembah. Setelah beberapa bulan kami kembali lagi bersama mantan kepala desa, namun manajernya sudah ganti. Itu terjadi tahun lalu,” kenang Syarif, kepada Info Labuan Bajo Selasa 30 Desember 2025.
Puncaknya terjadi menjelang Ramadan tahun lalu, ketika warga Kampung Lembah mendatangi kantor PLN dengan harapan bisa mendapatkan listrik untuk kebutuhan ibadah, terutama saat berbuka puasa. Mereka meminta aliran listrik agar bisa merasakan kenyamanan di bulan suci. Namun, yang mereka dapatkan hanyalah permintaan untuk mengajukan surat permohonan lagi. Mereka pun memenuhi permintaan itu, tetapi hasilnya tetap nihil. Sejak itu, tak ada penjelasan lebih lanjut dari PLN mengenai nasib listrik mereka.
Syarif juga sempat meminta bantuan kepada sebuah CV di Labuan Bajo untuk membantu mempercepat proses ini. Meski CV tersebut sudah menghubungi PLN, mereka tetap meminta surat permohonan baru. “Sudah berapa kali surat permohonan kami diserahkan, kami tidak tahu mereka simpan di mana surat-surat itu,” ujar Syarif dengan nada penuh kekecewaan.
Menurut informasi yang diterima dari pihak CV, masalah ini harus diurus ke KP3 di Ruteng, dengan syarat membuat surat permohonan lagi. Warga Lembah pun mengikuti instruksi itu dan mengirimkan surat ke Ruteng, namun hasilnya tetap sama. Sampai saat ini, meskipun ada gardu baru yang dimohonkan di kampung Tanjung Boleng, sambungan listrik ke Kampung Lembah masih belum terwujud.
Selama bertahun-tahun, tiang listrik sudah berdiri, kabel sudah terbentang, namun listrik yang sangat dibutuhkan masyarakat Lembah tetap tidak ada. Tiang listrik yang telah ada hampir 5–6 tahun tidak memberi arti, karena kabelnya langsung mengalir ke kampung sebelah. Sementara itu, ada 16 rumah di kampung ini yang berharap agar listrik bisa segera menyala. Warga Kampung Lembah pun bingung apakah mereka membutuhkan gardu listrik baru atau cukup menyambung dari gardu yang ada di kampung sebelah, yang terpenting mereka bisa merasakan penerangan.
“Kami ingin sekali menikmati listrik. Banyak yang ingin membuka usaha seperti bengkel atau kios, tetapi dengan kondisi seperti ini, harapan itu seolah mustahil. Kampung kami terletak dekat sekali dengan Labuan Bajo, tetapi kami seperti terisolasi dalam kegelapan,” ujar Syarif.
Tentu saja, kisah Kampung Lembah ini adalah salah satu dari sekian banyak ironi yang terjadi di negara ini. Sementara Labuan Bajo dengan segala kemegahannya terus berkembang sebagai destinasi wisata internasional, kampung-kampung di sekitarnya, seperti Lembah, masih harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan fasilitas dasar seperti listrik. Masalah ini sudah berlangsung sejak berdirinya PLN di Rangko, dan sampai sekarang belum ada penyelesaian yang memadai.
Salah satu warga Labuan Bajo yang mendengar kisah ini mengatakan, sudah saatnya pemerintah dan PLN memberikan perhatian serius kepada nasib Kampung Lembah dan kampung-kampung lain yang terabaikan. Listrik bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar bagi setiap warga negara.
“Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia harus memastikan bahwa setiap warganya bisa menikmati fasilitas dasar yang layak. Jangan biarkan kabel-kabel listrik yang terpasang hanya menjadi hiasan, sementara masyarakat terus hidup dalam kegelapan,” tandasnya.
Menurut dia, jika Labuan Bajo ingin dikenal sebagai kawasan yang berkembang dan ramah wisatawan, maka infrastruktur dasar seperti penyediaan listrik harus merata dan tidak terkecuali untuk kampung-kampung sekitar yang menjadi bagian dari wilayah tersebut. Ini adalah tanggung jawab bersama, yang tidak boleh ditunda lebih lama lagi.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi






