INFOLABUANBAJO.ID — Udara sejuk pegunungan mengalun lembut, membawa aroma rerumputan dan embusan angin yang datang dari bukit-bukit hijau. Di sebuah kampung kecil bernama Lukup, Desa Renda, suasana terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena keramaian warga yang berkumpul, tapi juga karena semesta seperti sedang bersiap menyambut peristiwa sakral yang sudah lama dinanti: upacara adat perkawinan seorang putri daerah yang kini menjabat sebagai Senator Republik Indonesia, dr. Stevi Harman, dengan pria pujaan hatinya, Mario Pranda.
Dalam suasana yang sarat adat dan penuh khidmat, dua hati disatukan, dua keluarga dijalin, dan dua kampung dipertemukan dalam ritus kuno Manggarai yang dikenal dengan nama Cikat Kina Wagal Kaba. Inilah perayaan cinta yang tidak hanya mengukuhkan janji suci pernikahan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menyulam Cinta di Tengah Tanah Leluhur
Sebelum sampai pada prosesi adat ini, pasangan Stevi dan Mario telah lebih dahulu mengikrarkan janji suci dalam pernikahan Katolik di Gereja St. Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan, pada 5 Juni lalu. Namun di Manggarai, tanah kelahiran leluhur Stevi, cinta tak cukup hanya dirayakan secara sakramental. Ia harus dipatrikan dalam upacara adat—disaksikan leluhur, dikukuhkan oleh komunitas, dan dimeteraikan oleh ritus-ritus yang telah dijaga sejak zaman nenek moyang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi dr. Stevi Harman, yang adalah putri sulung dari tokoh nasional dan anggota DPR RI Benny K. Harman, melangsungkan Wagal bukan sekadar formalitas. Ini adalah bentuk pulang ke akar, sebuah penghormatan terhadap darah dan tanah yang membesarkannya. Dan bagi Mario Pranda, lelaki asal Pogo, Welak, Manggarai Barat, ini adalah momen dirinya diterima secara adat ke dalam keluarga besar sang istri—sebuah penghormatan dan tanggung jawab sekaligus.
Busana Adat dan Simbol-Simbol Kehormatan
Hari itu, dr. Stevi tampak anggun dalam balutan kebaya lembut dan songke bermotif ayam jantan—simbol kesuburan, kekuatan, dan keberanian perempuan Manggarai. Di kepalanya, tersemat mahkota emas khas Manggarai, membuatnya tampak seperti lonto leok, perempuan bangsawan dalam dongeng-dongeng tua.
Di sisi lain, Mario tampil gagah mengenakan baju panjang putih, ikat kepala tenun, selempang adat, serta sabuk merah menyala yang menjuntai di pinggang. Di sana, sebilah parang tergantung—lambang bahwa ia kini bukan lagi tamu, melainkan bagian utuh dari keluarga, siap menjaga dan melindungi.
Langkah mereka berdua keluar dari mbaru gendang—rumah adat utama—menjadi simbol kelahiran baru sebagai pasangan sah menurut adat Manggarai. Diiringi tetabuhan gong dan tambur, sorak-sorai warga, dan riuh kamera, mereka berjalan perlahan di bawah payung merah berhias benang emas, simbol keberkahan dan perlindungan dari para leluhur.
Caci: Tarian Perang yang Menghidupkan Doa
Di tengah lapangan, deretan pria berpakaian adat berdiri gagah. Mereka bukan sekadar penari. Mereka adalah petarung budaya yang akan mempersembahkan Caci—tarian perang yang menjadi inti dari penyambutan dan perayaan adat. Dengan cambuk di tangan kanan dan tameng rotan di kiri, mereka beradu gerak dan teriakan dalam irama yang menggugah.
“Caci bukan hanya tontonan. Ia adalah doa dalam bentuk tarian,” ujar salah seorang tua adat.
Selama dua hari berturut-turut, para penari dari berbagai kampung datang silih berganti. Hentakan kaki mereka membentuk ritme yang menyatu dengan bumi. Cambuk yang berayun dan tameng yang menangkis menggambarkan keteguhan dan kesiapan kaum pria dalam melindungi keluarga dan komunitas. Dan dalam konteks perkawinan ini, Caci menjadi simbol harapan: agar rumah tangga baru ini kuat menghadapi segala ujian hidup, tangguh dalam cinta, dan kokoh dalam iman.
Wagal: Prosesi yang Mengikat Dua Dunia
Puncak dari seluruh rangkaian ini adalah Wagal, sebuah pengukuhan sah secara adat. Di sinilah seng paca (uang mahar) diserahkan dari pihak pria ke pihak perempuan—simbol pertukaran tanggung jawab dan penghormatan terhadap nilai perempuan dalam budaya Manggarai. Tak hanya uang, kerbau pun disiapkan—atau jika tak ada, dapat diganti dengan uang tunai sesuai kesepakatan.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya







