3. Mudah Tersinggung dan Cepat Emosi
Sebagian warga lokal juga menilai bahwa penghuni kos asal NTT mudah tersinggung dan cepat emosi saat menghadapi kesalahpahaman kecil.
Beberapa kasus bahkan berujung pada pertengkaran antar penghuni, hingga melibatkan pecalang atau polisi adat untuk menenangkan situasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ada ribut-ribut sedikit, mereka langsung panas. Akhirnya kami jadi takut,” kata seorang warga di kawasan Ubung.
4. Gaya Hidup dan Perilaku yang Dinilai Mengganggu
Alasan terakhir yang paling sering dikeluhkan adalah gaya hidup yang dianggap tidak sesuai norma lokal.
Sebagian penghuni kos asal NTT disebut sering mabuk, membuat keributan, muntah sembarangan, bahkan meminjam barang tanpa izin.
Beberapa kasus kriminalitas yang melibatkan oknum asal Sumba juga memperburuk citra masyarakat NTT di mata warga Bali. Padahal, tidak semua orang NTT seperti itu.
Tak Semua Warga NTT Seperti yang Disebut
Meski begitu, banyak pihak mengingatkan agar stigma negatif tidak digeneralisasi. Banyak warga NTT yang sopan, rajin, dan beretika baik selama tinggal di Bali.
“Yang ditolak seharusnya perilaku buruknya, bukan asal daerahnya. Banyak orang NTT datang ke Bali dengan niat kerja dan hidup jujur,” tulis akun Vincebere Life Story.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya saling menghormati dan memahami perbedaan budaya, agar tidak muncul diskriminasi baru di tengah masyarakat Bali yang dikenal toleran. ***
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Reims Nahal
Halaman : 1 2







