INFOLABUANBAJO.ID — Di sebuah kota yang dielu-elukan sebagai wajah pariwisata masa depan Indonesia, ironi justru tumbuh subur di tempat paling mendasar: trotoar. Di Labuan Bajo, ruang yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki kini perlahan berubah fungsi menjadi lahan parkir liar. Sepeda motor berjejer rapi, seolah trotoar memang diciptakan untuk kendaraan, bukan manusia.
Pemandangan ini bukan kejadian sekali dua kali. Ini adalah rutinitas harian. Trotoar yang dibangun dengan anggaran negara, dipercantik dengan desain modern, dilengkapi jalur pemandu bagi penyandang disabilitas—semuanya lumpuh oleh satu kebiasaan: parkir sembarangan. Jalur taktil yang seharusnya membantu tunanetra berjalan mandiri justru tertutup roda dan standar motor. Ini bukan sekadar pelanggaran aturan. Ini adalah pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap ruang publik.
Labuan Bajo bukan kota biasa. Ia adalah etalase pariwisata Indonesia. Dunia datang ke sini untuk melihat keindahan alam, menikmati keramahan, dan merasakan kualitas destinasi kelas dunia. Namun apa yang terjadi ketika wisatawan melangkah keluar hotel dan mendapati trotoar dipenuhi kendaraan? Pesan yang mereka tangkap bukanlah keindahan, melainkan ketidakteraturan. Bukan kemajuan, tetapi kelalaian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, penertiban bukan tidak pernah dilakukan. Aparat turun ke lapangan, teguran diberikan, bahkan razia sesekali digelar. Namun hasilnya seperti menimba air di pasir. Setelah petugas pergi, motor kembali naik ke trotoar. Fenomena ini menunjukkan satu hal yang lebih dalam: krisis kesadaran dan lemahnya konsistensi penegakan.
Masalah ini bukan sekadar soal parkir. Ini soal mentalitas kota wisata. Kota yang serius membangun pariwisata tidak akan membiarkan ruang publiknya diperlakukan sembarangan. Trotoar bukan pelengkap dekorasi, melainkan simbol peradaban. Kota-kota wisata kelas dunia memahami bahwa pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh destinasi utama, tetapi juga oleh detail kecil: kenyamanan berjalan kaki, keteraturan ruang, dan rasa hormat terhadap publik.
Yang terjadi di Labuan Bajo justru sebaliknya. Trotoar diperlakukan seperti ruang kosong yang bebas diambil siapa saja. Ini menunjukkan absennya rasa memiliki terhadap kota. Ketika trotoar dikuasai kendaraan, pejalan kaki dipaksa turun ke badan jalan, mempertaruhkan keselamatan mereka di antara lalu lintas kendaraan. Ini bukan hanya tidak nyaman, tetapi berbahaya.
Lebih memprihatinkan lagi, situasi ini menciptakan citra buruk bagi wajah pariwisata daerah. Manggarai Barat telah lama menggantungkan harapan ekonomi pada sektor pariwisata. Namun pariwisata tidak hanya tentang membangun hotel mewah, pelabuhan modern, atau bandara megah. Pariwisata adalah tentang tata kelola ruang yang beradab. Tanpa itu, semua investasi fisik kehilangan makna.
Trotoar yang dipenuhi motor adalah simbol kegagalan pengelolaan kota. Ia menunjukkan bahwa pembangunan masih berhenti pada infrastruktur, belum menyentuh perilaku. Padahal, kota wisata sejati dibangun bukan hanya dengan beton dan aspal, tetapi dengan disiplin dan kesadaran kolektif.
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya






