Pertanyaannya sederhana: sampai kapan ini dibiarkan?
Apakah trotoar akan terus menjadi korban kompromi antara aturan dan pembiaran? Apakah kota ini rela mempertaruhkan citranya demi kenyamanan segelintir pengendara yang enggan mencari parkir resmi? Ataukah pemerintah dan masyarakat akan memilih untuk benar-benar menjaga wajah kota ini?
Penertiban tidak boleh bersifat seremonial. Ia harus konsisten, tegas, dan berkelanjutan. Tanpa ketegasan, pelanggaran akan terus dianggap sebagai hal biasa. Tanpa sanksi nyata, aturan hanya akan menjadi pajangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak pemerintah. Masyarakat juga memegang peran kunci. Kota wisata tidak bisa dibangun oleh pemerintah saja. Ia membutuhkan partisipasi warganya. Menghormati trotoar adalah bentuk sederhana dari menghormati kota sendiri.
Labuan Bajo sedang berdiri di persimpangan. Di satu sisi, ia dipromosikan sebagai destinasi super premium. Di sisi lain, ia masih bergulat dengan persoalan dasar seperti trotoar yang dikuasai kendaraan. Kontradiksi ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung.
Pariwisata bukan hanya soal menjual pemandangan. Ia adalah tentang pengalaman menyeluruh. Dan pengalaman itu dimulai dari langkah pertama wisatawan di trotoar kota ini.
Jika trotoar saja tidak aman bagi pejalan kaki, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, tetapi martabat Labuan Bajo sebagai kota wisata dunia.
Entah sampai kapan trotoar di kota ini akan terus diparkiri. Namun satu hal pasti: setiap hari pembiaran adalah satu langkah mundur bagi mimpi besar Labuan Bajo.
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







