“Apakah kami harus menunggu kuota 1.000 itu dulu baru bisa menikah?” katanya.
Lebih jauh, ia juga menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan keluarga di Manggarai Barat. Menurutnya, dalam budaya setempat, laki-laki memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarga, termasuk membiayai adik-adiknya.
Namun dalam kondisi saat ini, hal tersebut menjadi sulit dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jangankan dia kasih makan keluarga, kasih makan saya saja sekarang tidak bisa,” ucapnya.
Ia juga menyinggung kondisi para orang tua yang sudah lanjut usia namun harus kembali bekerja keras untuk bertahan hidup.
“Mama sudah umur 60 tahun, masih harus turun ke kebun cari kayu untuk dijual,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, ia berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan tersebut. Ia bahkan menyampaikan harapan sederhana: bisa kembali merencanakan pernikahannya.
“Tolonglah ini dicabut. Kami hanya ingin hidup, ingin menikah. Kalau nanti jadi menikah tahun 2027, saya undang Bapak,” tutupnya.
Aksi demonstrasi APMB ini menjadi salah satu bentuk penolakan terhadap kebijakan pembatasan wisatawan yang dinilai berdampak langsung pada keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal, khususnya mereka yang menggantungkan hidup di sektor pariwisata Labuan Bajo.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







