Kendati demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan simbolik antara dua “Flores” ini memunculkan refleksi yang menarik. Di satu sisi, Flores di Argentina melahirkan seorang Paus yang berkomitmen terhadap kesederhanaan, dialog antaragama, dan pembelaan terhadap kaum marginal. Di sisi lain, Flores di Indonesia telah lama menjadi pusat pertumbuhan iman Katolik yang dinamis dan kontekstual, melahirkan tokoh-tokoh Gereja dan umat yang aktif dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan budaya.
Kedua Flores ini, meskipun dipisahkan oleh benua dan sejarah, seakan dipertautkan oleh semangat yang sama: semangat pelayanan, ketekunan dalam iman, dan cinta kepada sesama.
Maka dalam pengertian yang lebih luas, pernyataan bahwa “Paus Fransiskus lahir di Flores” bukanlah sekadar kekeliruan geografis, melainkan pengingat bahwa iman Katolik tumbuh dari banyak tempat, bahkan dari tempat-tempat yang namanya sama, namun kisahnya berbeda. Dan barangkali, dari kebetulan nama itu, kita diajak untuk melihat bagaimana dunia yang luas ini dapat terhubung oleh nilai-nilai universal yang melampaui batas geografi: kasih, harapan, dan pelayanan tanpa pamrih. ***
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2







