DNA festival ini adalah evolusi. Setiap tahun, tema festival selaras dengan fokus pastoral keuskupan, membuatnya dinamis dan relevan. Pada 2023, saat fokus beralih ke “Ekonomi Berkelanjutan”, etalase UMKM semakin riuh dan terkurasi. Setahun kemudian, dengan tema “Ekologi Integral”, festival ini naik kelas. Tak hanya soal perayaan, panitia mulai menghitung jejak karbon dan mengedukasi anak muda tentang kelestarian lingkungan. Sebuah langkah yang menunjukkan keseriusan, bukan sekadar basa-basi.
Puncaknya adalah pengakuan dari pemerintah pusat. Masuknya Golo Koe ke dalam daftar KEN, yang diserahkan langsung oleh Menteri Sandiaga Uno pada 2024, menjadi validasi atas kerja kolaboratif tersebut. Apresiasi ini, seperti kata Wakil Bupati Yulianus Weng, bukan sekadar trofi, melainkan “tanggung jawab yang lebih besar.”
Kini, dengan status Top 10 KEN 2025, Golo Koe menghadapi tantangan baru: menjaga kualitas dan terus berinovasi agar tak menjadi monoton. Festival ini telah membuktikan bahwa spiritualitas bisa menjadi motor penggerak pariwisata yang otentik dan berdampak. Golo Koe bukan lagi sekadar agenda keuskupan, ia telah menjadi aset berharga Labuan Bajo dan cetak biru bagaimana pariwisata religius bisa dikemas secara modern, inklusif, dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Fons Abun
Editor : R. Nahal
Sumber Berita: Heribertus Ratu, Seksi Publikasi Festival Golo Koe 2025
Halaman : 1 2







