“Sebanyak 34 ekor paus berhasil digiring kembali ke laut. Kami sangat mengapresiasi kerja keras petugas di lapangan dan dukungan masyarakat yang turut membantu proses penyelamatan,” kata Imam.
Ia juga menjelaskan bahwa fenomena paus terdampar sering terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah karena terbawa arus laut atau kesalahan navigasi.
Selain itu, paus pilot dikenal sebagai hewan sosial yang hidup berkelompok dan sangat bergantung pada pemimpin kawanan. Jika pemimpin kelompok mengalami masalah atau terdampar, anggota lainnya biasanya akan mengikuti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Kepala Polsek Rote Barat Daya, Inspektur Dua Subur Gunawan, mengatakan proses evakuasi dan penyelamatan paus membutuhkan waktu yang cukup lama.
Menurutnya, paus-paus tersebut harus diarahkan secara perlahan agar tidak kembali ke perairan dangkal.
Petugas gabungan bersama warga menggunakan perahu nelayan serta peralatan seadanya untuk menggiring kawanan paus menuju laut yang lebih dalam. Mereka bahkan terus mengawal pergerakan paus hingga benar-benar berada di perairan yang aman.
“Hampir tiga jam kami melakukan proses penggiringan kawanan paus sampai mereka mencapai perairan yang cukup dalam dan aman,” ungkap Subur.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan penyelamatan tersebut tidak lepas dari koordinasi yang baik antara aparat dan masyarakat setempat.
Di sisi lain, Kepala Polres Rote Ndao Ajun Komisaris Besar Mardiono menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, khususnya para nelayan, yang ikut terlibat dalam proses penyelamatan satwa laut yang dilindungi tersebut.
Menurutnya, peristiwa ini menjadi salah satu operasi penyelamatan paus terbesar yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada para nelayan dan warga yang telah membantu proses penyelamatan kawanan paus ini. Kepedulian mereka terhadap satwa laut dilindungi seperti paus pilot patut diapresiasi,” ujar Mardiono.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2






