Kemiskinan Ekstrem di Manggarai Timur: Wanita Ini Lumpuh dan Tinggal di Kandang Selama 10 Tahun, Kini Butuh Bantuan Kita

- Redaksi

Minggu, 26 April 2026 - 10:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

10 Tahun Terbaring Lumpuh, Olivia Piang Tinggal di “Kandang”, Butuh Uluran Tangan

Manggarai Timur – Nasib pilu dialami Olivia Piang (34), warga Kampung Naju, Desa Teno Mese, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Selama hampir 10 tahun terakhir, ia terpaksa tinggal di sebuah bilik kayu sempit menyerupai kandang di samping rumah keluarganya akibat kondisi lumpuh total yang dideritanya.

Kondisi ini bukan tanpa alasan. Keterbatasan fisik membuat Olivia tidak mampu berjalan, sehingga keluarga membangun tempat sederhana tersebut agar memudahkan aktivitas sehari-harinya, termasuk buang air besar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Olivia awalnya terlahir dalam kondisi normal dari pasangan Damianus Lomes dan Marta Deda (almarhumah). Namun, sejak usia sekitar 10 tahun, ia mulai mengalami gangguan kejiwaan. Kondisinya semakin memburuk saat menginjak usia 15 tahun hingga akhirnya mengalami kelumpuhan total.

Kini, di usia 34 tahun, Olivia hanya bisa menghabiskan hari-harinya di dalam bilik kayu tersebut. Ia dirawat oleh saudaranya, Petrus Basar, sementara sang ayah tinggal terpisah di rumah lain.

“Kadang dia tidak makan seharian kalau keluarga sedang ke kebun atau ada keperluan di luar. Dia tidak bisa ke mana-mana karena tidak bisa berjalan,” ungkap salah satu anggota keluarga, Jumat (24/4/2026).

Selama hampir satu dekade, Olivia juga tidak pernah keluar rumah. Kondisi psikologisnya disebut semakin memburuk, dipicu rasa malu akibat keterbatasan fisik yang dialaminya.

Padahal, sebelum sakit, Olivia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Ia sering berinteraksi dengan teman-temannya dan dikenal ceria. Namun, perubahan drastis dalam hidupnya membuat ia semakin menarik diri dari lingkungan sosial.

Dari sisi bantuan sosial, Olivia sebenarnya telah terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari APBDes Desa Teno Mese. Selain itu, ayahnya juga menerima bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan sembako dari pemerintah.

Sayangnya, bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan khusus Olivia, termasuk penyediaan tempat tinggal yang lebih layak dan manusiawi.

Pihak keluarga hanya bisa berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun para dermawan untuk membantu meringankan beban yang mereka alami.

“Kami berharap ada bantuan untuk memperbaiki tempat tinggal Olivia supaya lebih layak. Minimal dia bisa hidup lebih manusiawi,” tambah keluarga.

Saat ini, Olivia sangat membutuhkan bantuan berupa pakaian layak, kasur, selimut, pampers dewasa, serta kebutuhan pokok sehari-hari. Selain itu, dukungan untuk renovasi tempat tinggal menjadi kebutuhan mendesak agar ia tidak lagi hidup di tempat yang tidak layak huni.

Kisah Olivia menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian bersama. Uluran tangan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi dirinya.

10 Tahun Terbaring Lumpuh, Olivia Piang Tinggal di “Kandang”, Butuh Uluran Tangan Manggarai Timur – Nasib pilu dialami Olivia Piang (34), warga Kampung Naju, Desa Teno Mese, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Selama hampir 10 tahun terakhir, ia terpaksa tinggal di sebuah bilik kayu sempit menyerupai kandang di samping rumah keluarganya akibat kondisi lumpuh total yang dideritanya. Kondisi ini bukan tanpa alasan. Keterbatasan fisik membuat Olivia tidak mampu berjalan, sehingga keluarga membangun tempat sederhana tersebut agar memudahkan aktivitas sehari-harinya, termasuk buang air besar. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Olivia awalnya terlahir dalam kondisi normal dari pasangan Damianus Lomes dan Marta Deda (almarhumah). Namun, sejak usia sekitar 10 tahun, ia mulai mengalami gangguan kejiwaan. Kondisinya semakin memburuk saat menginjak usia 15 tahun hingga akhirnya mengalami kelumpuhan total. Kini, di usia 34 tahun, Olivia hanya bisa menghabiskan hari-harinya di dalam bilik kayu tersebut. Ia dirawat oleh saudaranya, Petrus Basar, sementara sang ayah tinggal terpisah di rumah lain. “Kadang dia tidak makan seharian kalau keluarga sedang ke kebun atau ada keperluan di luar. Dia tidak bisa ke mana-mana karena tidak bisa berjalan,” ungkap salah satu anggota keluarga, Jumat (24/4/2026). Selama hampir satu dekade, Olivia juga tidak pernah keluar rumah. Kondisi psikologisnya disebut semakin memburuk, dipicu rasa malu akibat keterbatasan fisik yang dialaminya. Padahal, sebelum sakit, Olivia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Ia sering berinteraksi dengan teman-temannya dan dikenal ceria. Namun, perubahan drastis dalam hidupnya membuat ia semakin menarik diri dari lingkungan sosial. Dari sisi bantuan sosial, Olivia sebenarnya telah terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari APBDes Desa Teno Mese. Selain itu, ayahnya juga menerima bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan sembako dari pemerintah. Sayangnya, bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan khusus Olivia, termasuk penyediaan tempat tinggal yang lebih layak dan manusiawi. Pihak keluarga hanya bisa berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun para dermawan untuk membantu meringankan beban yang mereka alami. “Kami berharap ada bantuan untuk memperbaiki tempat tinggal Olivia supaya lebih layak. Minimal dia bisa hidup lebih manusiawi,” tambah keluarga. Saat ini, Olivia sangat membutuhkan bantuan berupa pakaian layak, kasur, selimut, pampers dewasa, serta kebutuhan pokok sehari-hari. Selain itu, dukungan untuk renovasi tempat tinggal menjadi kebutuhan mendesak agar ia tidak lagi hidup di tempat yang tidak layak huni. Kisah Olivia menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian bersama. Uluran tangan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi dirinya.

INFOLABUANBAJO.ID – Nasib pilu dialami Olivia Piang (34), warga Kampung Naju, Desa Teno Mese, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Selama hampir 10 tahun terakhir, ia terpaksa tinggal di sebuah bilik kayu sempit menyerupai kandang di samping rumah keluarganya akibat kondisi lumpuh total yang dideritanya.

Kondisi ini bukan tanpa alasan. Keterbatasan fisik membuat Olivia tidak mampu berjalan, sehingga keluarga membangun tempat sederhana tersebut agar memudahkan aktivitas sehari-harinya, termasuk buang air besar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Olivia awalnya terlahir dalam kondisi normal dari pasangan Damianus Lomes dan Marta Deda (almarhumah). Namun, sejak usia sekitar 10 tahun, ia mulai mengalami gangguan kejiwaan. Kondisinya semakin memburuk saat menginjak usia 15 tahun hingga akhirnya mengalami kelumpuhan total.

Kini, di usia 34 tahun, Olivia hanya bisa menghabiskan hari-harinya di dalam bilik kayu tersebut. Ia dirawat oleh saudaranya, Petrus Basar, sementara sang ayah tinggal terpisah di rumah lain.

“Kadang dia tidak makan seharian kalau keluarga sedang ke kebun atau ada keperluan di luar. Dia tidak bisa ke mana-mana karena tidak bisa berjalan,” ungkap salah satu anggota keluarga, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga:  Dicari Untuk Lanjutkan Tugas, Oknum Polisi di NTT Kepergok Sedang Satu Ranjang dengan Polwan Cantik di Hotel

Selama hampir satu dekade, Olivia juga tidak pernah keluar rumah. Kondisi psikologisnya disebut semakin memburuk, dipicu rasa malu akibat keterbatasan fisik yang dialaminya.

Padahal, sebelum sakit, Olivia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Ia sering berinteraksi dengan teman-temannya dan dikenal ceria. Namun, perubahan drastis dalam hidupnya membuat ia semakin menarik diri dari lingkungan sosial.

Penulis : Tim Info Labuan Bajo

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Klarifikasi Emiliana Helni Lewat Kuasa Hukum, Bantah Tuduhan Bunga Tinggi, Berikut Penjelasannya
AWSTAR Bantah Keras Isu Penganiayaan Driver Grab di Labuan Bajo, Sebut Hanya Salah Paham Zonasi
Soal Suruh Jual Diri dan Jual Anak untuk Bayar Utang, Begini Jawaban ASN di Labuan Bajo yang Diduga Pemilik Voice Note Viral
Heboh Oknum Guru Diduga Caci Maki di Medsos, Warga Surati Bupati Manggarai Hery Nabit
BREAKING NEWS: Guru SD di Ruteng Berinisial EH Diperiksa Polres Manggarai Barat Terkait Kasus Ini
VIRAL! Diduga Guru PNS di Ruteng Tulis Komentar Pedas Saat Keluarga Berduka, Netizen: Tak Punya Empati!
Kuota 1.000 Wisatawan TN Komodo Belum Dicabut, APMB Siap Gelar Demo Jilid 2: Puluhan Ribu Massa Siap Lumpuhkan Labuan Bajo
Kronologi Kematian Anggota Polisi di Manggarai Timur, Diduga Akhiri H!dup karena Ini

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 10:17 WITA

Kemiskinan Ekstrem di Manggarai Timur: Wanita Ini Lumpuh dan Tinggal di Kandang Selama 10 Tahun, Kini Butuh Bantuan Kita

Jumat, 24 April 2026 - 11:33 WITA

Klarifikasi Emiliana Helni Lewat Kuasa Hukum, Bantah Tuduhan Bunga Tinggi, Berikut Penjelasannya

Rabu, 22 April 2026 - 20:13 WITA

AWSTAR Bantah Keras Isu Penganiayaan Driver Grab di Labuan Bajo, Sebut Hanya Salah Paham Zonasi

Rabu, 22 April 2026 - 00:24 WITA

Soal Suruh Jual Diri dan Jual Anak untuk Bayar Utang, Begini Jawaban ASN di Labuan Bajo yang Diduga Pemilik Voice Note Viral

Selasa, 21 April 2026 - 10:34 WITA

Heboh Oknum Guru Diduga Caci Maki di Medsos, Warga Surati Bupati Manggarai Hery Nabit

Berita Terbaru

Guru Datangi Rumah Siswa Sakit, Pastikan Tetap Ikut Ujian AAS 2026

Pendidikan

Guru Datangi Rumah Siswa Sakit, Pastikan Tetap Ikut Ujian AAS 2026

Sabtu, 25 Apr 2026 - 18:18 WITA