Pertama, digitalisasi data sopir melalui integrasi dalam grup WhatsApp. Langkah ini dimaksudkan untuk memudahkan koordinasi dan menghindari miskomunikasi di lapangan.
Kedua, pengaturan zonasi penumpang. Sopir dari Ruteng sepakat tidak mengambil penumpang di wilayah tertentu menuju Labuan Bajo tanpa koordinasi, demikian pula sebaliknya bagi sopir Lembor.
Ketiga, pembatasan pengambilan penumpang lintas wilayah tanpa komunikasi antar-koordinator. Ini termasuk larangan bagi sopir Ruteng mengambil penumpang dari Labuan Bajo ke Lembor tanpa kesepakatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keempat, perlindungan rute lokal, yang pada dasarnya menegaskan batas-batas operasional agar tidak terjadi tumpang tindih yang memicu konflik ekonomi.
Kelima, pembentukan kanal komunikasi bersama sebagai mekanisme respons cepat jika terjadi gesekan baru.
Kesepakatan ini menunjukkan satu hal: konflik yang semula bersifat spontan kini direspons dengan pendekatan sistemik. Para sopir tidak lagi sekadar mengandalkan kesepahaman informal, melainkan mulai membangun aturan kolektif—meski dalam bentuk sederhana.
Dari Konflik ke Kolaborasi?
Insiden penghadangan yang terjadi pada 1 April lalu menjadi titik balik. Peristiwa itu bukan hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya koordinasi antar-operator transportasi lokal.
Kini, dengan adanya kesepakatan tertulis, harapan mulai muncul bahwa jalur trans-Flores di segmen ini bisa kembali stabil. Namun, tantangan sebenarnya bukan pada penandatanganan kesepakatan, melainkan pada konsistensi pelaksanaannya.
Sebastianus Jebaru mengakui peran kepolisian dalam menjembatani dialog. “Kami bisa kembali bekerja dengan tenang,” ujarnya.
Pertemuan ditutup pukul 15.00 Wita dalam suasana kekeluargaan. Namun seperti banyak kesepakatan damai lainnya, waktu akan menjadi penguji utama: apakah lima poin itu akan benar-benar menjadi pegangan bersama, atau sekadar dokumen yang dilupakan ketika konflik berikutnya muncul.
Untuk saat ini, setidaknya, jalur Ruteng–Lembor kembali terbuka—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2






