Orang Miskin “Dilarang Makan”? (Catatan Kritis Soal “Getok Harga” Kuliner di Kampung Ujung)

- Redaksi

Jumat, 7 Juni 2024 - 11:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sil Joni. (Foto: Dokpri Penulis)

Sil Joni. (Foto: Dokpri Penulis)

Factum ‘getok harga’ hanya sebagai ‘akibat’ dari sistem pengelolaan kepariwisataan yang cenderung elitis dan eksklusif. Untuk mengatasi persoalan itu, para penentu kebijakan, mesti ‘mencari dan mencabut akar masalahnya’.

Hemat saya, pemerintah mesti meneropong mengapa ‘kebanyakan bahan baku untuk kuliner’ itu, didatangkan dari luar. Sudah waktunya pemerintah mengotimalkan potensi sumber daya di Mabar untuk memproduksi bahan kebutuhan pokok seperti sayur, buah, dan daging. Para petani ‘difasilitiasi dan diberdayakan’ agar cakap dalam mengelola lahan dan memproduksi tanaman yang berkualitas.

Di samping itu, sewa lapak usaha kuliner di Kampung Ujung mesti ‘berpihak’ pada kelompok ekonomi ke bawah. Harga kontraknya jangan sampai ‘mencekik leher’ para pedagang. Tetapkan tarif yang wajar dan bisa dijangkau oleh pengusaha kecil dan menengah.

Selanjutnya, pemerintah perlu membentuk semacam ‘satuan tugas (satgas) untuk memantau secara rutin tren perkembangan harga makanan di tempat itu. Pastikan bahwa semua pedagang ‘patuh’ terhadap besaran tarif (harga) yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam menjajakan barang dagangannya. Tidak ada lagi ‘oknum’ yang coba ‘menodai citra wisata’ kita, melalui penerapan spekulasi harga yang tidak normal.

Jika upaya ‘getok harga’ tak mentok, maka secara tidak langsung ‘wisata super premium’ mengeksklusi keberadaan ‘the poor’. Hak ‘kaum tak berpunya’ untuk mencicipi kuliner eksotis nan mewah di Kampung Ujung, harus ‘terkurung’. Dengan perkataan lain, melalui ‘getok harga’, kita melarang orang miskin untuk makan di sana.

Baca Juga:  Fenomena Mario

Jangan sampai ‘kaum tak beruntung’ hanya memandang dari jauh ‘susu dan madu’ yang tersedia di Kampung Ujung. Kalau dapat, akses warga untuk merasakan ‘sensasi berwisata kuliner’ di sana, terbuka lebar. Caranya adalah tetapkan harga yang bersahabat dengan warga (lokal).

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Berita Terkait

Warga Manggarai Barat Tolak Kuota 1.000 Wisatawan di Pulau Padar, Ini Alasan Lengkapnya
Kontras Sikap NasDem: Anggota DPR RI Dukung Pembatasan Wisatawan, DPRD Manggarai Barat Teken Petisi Penolakan
Tangis Pekerja Wisata di Labuan Bajo: Dampak Kuota 1.000 Wisatawan, Rencana Nikah 2027 Batal
Taman Nasional Komodo Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia, Ini Cara Menikmatinya ala Luxury Getaway di Meruorah
Ribuan Massa Siap Demo! Pelaku Wisata Labuan Bajo Tolak Pembatasan 1.000 Pengunjung ke TN Komodo
Pariwisata Labuan Bajo Bergejolak, Kuota Kunjungan TN Komodo Picu Polemik
Viral Wisatawan Dilarang Naik ke Pulau Padar, Kuota Penuh 1.000 Orang per Hari Jadi Penyebab
Indonesia Pinjamkan 2 Komodo ke Jepang, Ditukar Jerapah dan Panda Merah, Ini Tujuan Sebenarnya

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 21:20 WITA

Warga Manggarai Barat Tolak Kuota 1.000 Wisatawan di Pulau Padar, Ini Alasan Lengkapnya

Senin, 13 April 2026 - 22:26 WITA

Tangis Pekerja Wisata di Labuan Bajo: Dampak Kuota 1.000 Wisatawan, Rencana Nikah 2027 Batal

Sabtu, 11 April 2026 - 10:50 WITA

Taman Nasional Komodo Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia, Ini Cara Menikmatinya ala Luxury Getaway di Meruorah

Kamis, 9 April 2026 - 22:13 WITA

Ribuan Massa Siap Demo! Pelaku Wisata Labuan Bajo Tolak Pembatasan 1.000 Pengunjung ke TN Komodo

Rabu, 8 April 2026 - 09:50 WITA

Pariwisata Labuan Bajo Bergejolak, Kuota Kunjungan TN Komodo Picu Polemik

Berita Terbaru