“Kemaren saya pulang libur ke kampung, tepatnya dibulan November 2024. Kejadiannya sore hari,disaat bapa pulang dari kebun. Mereka (Bapa dan mama) bertengkar hanya karena ubi goreng saja. Bapa memaki-maki mama dan hendak memukul mama namun dihalangi saya dan adik,” ujar Sindi Jumaidela, Senin (13/1/2025) malam.
Sindi juga mengurai bahwa kekerasan yang dilakukan oleh sang ayah sudah seringkali terjadi saat mereka di bangku SMP.
“Saya berharap agar persoalan ini diselesaikan dengan baik antara bapa,mama dan keluarga. Saya juga tidak mengharapkan Bapa dipenjara, namun saya lebih kepada soal sikap Ayah untuk bisa dirubah ke depannya,” tutup Sindi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara Venseslaus Jumaidela selaku Kepala Desa aktif saat dikonfirmasi membantah jika dirinya tidak melakukan kekerasan. Ia mengaku hanya menegur sang istri dengan keras.
“Saya tidak pukul dia,pak.Apalagi sampai mengancam dan mengeluarkan sebilah parang itu tidak benar. Terkait luka lebam di matanya itu karena saya mendorong dia dan jatuh terbentur dengan lantai,” ujar Jumaidela Senin sore.
Kades Jumaidela juga menyinggung bahwa dirinya tersulut emosi karena kelakuan sang istri tidak pernah baik dimata sang Kades.
“Dia sepertinya ada gangguang psikologis, karena selalu bikin yang aneh-aneh di rumah. Makanya saya tegur dia dengan keras. Untuk saya mengancam dia dengan sebilah parang itu tidak benar,” terang Jumaidela.
Jumaidela bahkan tak segan-segan untuk siap menghadapi jika pihak keluarga ingin melaporkan perbuatannya ke pihak yang berwajib.
Halaman : 1 2







