INFOLABUANBAJO.ID — Tak pernah terbayangkan oleh Sahrullah (31), warga Kelurahan Kekalik Jaya, bahwa rumahnya akan berubah jadi lautan lumpur—bukan di musim hujan, melainkan saat kemarau tengah memuncak. Dengan mata sembab dan tubuh yang nyaris roboh karena tak tidur semalaman, ia masih terus mengayunkan potongan triplek, menyendok lumpur tebal yang mengubur lantai rumahnya hingga tak tampak ubin.
“Air tiba-tiba masuk lewat celah pipa saluran pembuangan. Awalnya kecil, lama-lama naik sampai sepinggang,” ujarnya pelan saat ditemui pada Senin (7/7/2025), di tengah reruntuhan perabotan rumah tangga yang basah dan rusak. Tangannya masih sibuk menggeser lumpur cokelat pekat yang berasal dari sawah-sawah yang ikut tergenang banjir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banjir hebat yang mengejutkan ini terjadi pada Minggu, 6 Juli 2025—tepat ketika langit seharusnya cerah dan tanah seharusnya kering. Tapi kenyataan justru berbanding terbalik. Curah hujan ekstrem selama enam jam berturut-turut—mencapai 4,2 miliar liter air—membuat Sungai Ancar dan sungai-sungai lain di Kota Mataram meluap, tak mampu menahan limpasan air hujan yang tertahan gelombang pasang laut.
Hasilnya? Bencana luar biasa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mencatat enam kecamatan terdampak langsung, lebih dari 30.000 warga terkena imbas, 520 orang terpaksa mengungsi, 35 orang dilarikan ke rumah sakit, dan satu nyawa melayang akibat sengatan listrik.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya






